SUMATERA SELATAN — Jakarta – Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, memasang target ambisius di tengah tekanan ekspansi bisnis. Perusahaan menargetkan pemangkasan emisi GRK hingga 2 juta ton CO2e pada 2030, atau setara 15,5 persen dari baseline tertentu. Langkah ini menjadi ujian berat karena di saat bersamaan, kebutuhan energi Grup MIND ID diprediksi melonjak drastis.
Binahidra Logiardi, Division Head of Sustainability MIND ID, mengungkapkan bahwa mandat hilirisasi yang diemban perusahaan justru menjadi sumber tantangan terbesar. “Dengan mandat hilirisasi yang diberikan kepada MIND ID, kebutuhan energi operasional kami diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat pada 2030. Terlebih, emisi ini diproyeksikan bisa meningkat sekitar 2,1 kali lipat apabila tidak dilakukan intervensi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (30/6).
Data internal perusahaan menunjukkan, kebutuhan energi Grup MIND ID akan meroket dari sekitar 149.000 terajoule (TJ) pada 2026 menjadi 293.000 TJ pada 2030. Artinya, terjadi lonjakan lebih dari 90 persen dalam waktu empat tahun. Jika tidak ada aksi pengendalian, emisi GRK diproyeksikan naik dari 6.100 kiloton CO2e menjadi 12.900 kiloton CO2e pada periode yang sama.
Ekspansi besar-besaran ini mencakup pengembangan tambang di Kalimantan, proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur, ekspansi fasilitas aluminium, pembangunan smelter, hingga proyek penambangan bawah laut. Semua proyek itu membutuhkan pasokan energi raksasa.
Untuk menekan laju emisi, MIND ID menggelar sejumlah langkah strategis. Pertama, konversi bahan bakar rendah karbon. Perusahaan akan meningkatkan penggunaan biodiesel dari B35 menuju B40, mengganti High Speed Diesel (HSD) dengan liquefied natural gas (LNG), dan mengoptimalkan listrik dari jaringan PLN.
Langkah ini sudah mulai berbuah hasil. PT Bukit Asam Tbk, misalnya, menggunakan Bucket Wheel Excavator (BWE) untuk penanganan batu bara di Unit Pertambangan Tanjung Enim. Alat ini menggantikan dump truck berbahan bakar fosil dan berhasil menurunkan emisi sekitar 5.200 ton CO2e per tahun. Sementara itu, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) melakukan konversi dari HSD ke LNG di fasilitas baking plant, menghasilkan penurunan emisi sekitar 3.700 ton CO2e sekaligus meningkatkan efisiensi energi.
Di sisi energi terbarukan, MIND ID memperluas pemanfaatan biomassa dan tenaga surya. PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) telah menerapkan co-firing menggunakan biomassa cangkang kelapa sawit sebagai pengganti sebagian batu bara, menurunkan emisi sekitar 560 ton CO2e. PT Timah Tbk juga mengoperasikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 kilowatt peak (kWp) yang mampu mengurangi emisi sekitar 300 ton CO2e.
Sebagai pelengkap strategi reduksi langsung, MIND ID mengembangkan skema offset karbon melalui proyek berbasis alam (nature-based solutions), pemanfaatan Renewable Energy Certificate (REC), serta partisipasi dalam perdagangan karbon. Binahidra menegaskan, upaya dekarbonisasi bukan sekadar kewajiban lingkungan, melainkan faktor penentu daya saing produk mineral Indonesia di pasar global.
“Investor, lembaga keuangan, dan rantai pasok internasional kini semakin ketat mensyaratkan aspek keberlanjutan sebagai syarat akses pasar,” ujar Binahidra. Ia menambahkan, seluruh strategi perusahaan harus mengintegrasikan aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) ke dalam operasional untuk mendukung target Second NDC 2030 dan aspirasi Net Zero Emissions Indonesia.