Review Asus ROG Strix Scar 18 (2026): Layar Mini-LED Cemerlang, Performa Tersandung RAM Tunggal

Penulis: Hendra Mukhtar  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:34:31 WIB
Asus ROG Strix Scar 18 (2026) hadir dengan layar mini-LED 18 inci beresolusi tinggi dan refresh rate 240 Hz.

SUMATERA SELATAN — Asus kembali memanjakan gamer kelas atas dengan ROG Strix Scar 18 (2026), laptop gaming 18 inci yang mengusung layar mini-LED "Nebula". Resolusinya 3840 x 2400 piksel, refresh rate 240 Hz, dengan 2.000 zona peredupan. Unit yang diuji dibanderol USD 4.999,99 (sekitar Rp 82,5 juta), sementara varian RTX 5080 dibuka dari USD 4.299,99 (sekitar Rp 70,9 juta). Namun, di balik spesifikasi gahar dan desain gaming yang mencolok, ada keputusan teknis yang mengganjal.

Hal yang Disukai: Layar dan Kemudahan Upgrade

Layar mini-LED menjadi bintang utama. Setelah melalui pengaturan rumit di Armoury Crate—memilih mode "GPU Ultimate" untuk mengaktifkan G-Sync dan 240 Hz—panel ini mampu mencapai 1.124 nit di konten HDR. Warna melompat keluar, dan efek HDR dari ledakan senjata di game 007: First Light tampak memesona. Fitur Extreme Low Motion Blur (ELMB) juga efektif menghilangkan bayangan pada objek bergerak cepat, krusial untuk pemain esports.

Dari segi fisik, Asus memberikan lima tombol makro khusus—jarang ditemui di laptop lain—dan touchpad mekanis yang responsif. Upgrade komponen juga sangat mudah: panel bawah bisa dibuka tanpa alat, memperlihatkan dua slot M.2 dan dua slot SODIMM yang siap diisi.

Hal yang Kurang: Performa Terhambat RAM dan Storage

Kelemahan paling mencolok ada di konfigurasi memori. Laptop ini hanya menggunakan satu modul DDR5-6400 32 GB, bukan dual-channel. Akibatnya, skor multi-core Geekbench 6 Scar 18 (17.629 poin) tertinggal jauh dari kompetitor yang semuanya di atas 20.000 poin. Di game 4K, Scar 18 juga kalah sekitar 10% dari Razer Blade 18 di Cyberpunk 2077 dan Shadow of the Tomb Raider.

Selain itu, Asus masih mempertahankan SSD PCIe 4.0 di era di mana PCIe 5.0 sudah menjadi standar laptop flagship. Meski kecepatan transfer 2.042 MB/s cukup kompetitif, keputusan ini terasa seperti penghematan yang tidak pada tempatnya di harga segini.

Keyboard juga mengecewakan untuk produktivitas: tata letak tombol angka hanya dua pertiga ukuran, tidak ada tombol Home/End khusus, dan tidak ada right Ctrl. Untungnya, untuk gaming, keyboard terasa presisi dengan actuation force yang pas.

Performa Nyata: Tangguh, Tapi Bukan yang Tercepat

Dalam pengujian sintetis dan game, Scar 18 menunjukkan performa yang solid namun tidak konsisten memimpin. Di Metro Exodus stress test, GPU RTX 5090 (175W) bertahan di 141 FPS rata-rata tanpa penurunan berarti. Suhu komponen juga terkendali: CPU rata-rata 66°C dan GPU 64°C, dengan suhu permukaan bawah mencapai 42°C (108°F) di area ventilasi.

Di game Cyberpunk 2077 dengan ray tracing ultra di 4K, Scar 18 hanya mencapai 21 FPS—menunjukkan bahwa tidak semua game bisa dimainkan di pengaturan maksimal. Untungnya, DLSS mampu menggandakan frame rate di 007: First Light menjadi 70+ FPS. Daya tahan baterai 90 Wh juga tergolong lumayan untuk laptop 18 inci: 4 jam 59 menit dalam pengujian web browsing, lebih baik dari Alienware 16 Area-51 (3 jam 33 menit) namun kalah dari Razer Blade 18 (5 jam 31 menit).

Kesimpulan: Untuk Siapa Scar 18 Cocok?

Asus ROG Strix Scar 18 (2026) adalah laptop dengan dua kepribadian. Layarnya layak disebut salah satu yang terbaik di kelasnya—terang, tajam, dan kaya warna. Namun, keputusan menggunakan RAM single-channel dan SSD PCIe 4.0 di harga Rp 82,5 juta adalah kesalahan yang sulit dimaafkan. Bagi Anda yang mengutamakan pengalaman visual maksimal dan tidak keberatan mengutak-atik pengaturan, Scar 18 tetap layak dipertimbangkan. Namun, jika performa mentah adalah prioritas utama, Razer Blade 18 menawarkan eksekusi yang lebih matang.

Reporter: Hendra Mukhtar
Sumber: tomshardware.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top