BATURAJA — Petani karet di OKU kembali gigit jari. Setelah sempat bertahan di angka Rp 20.000 per kilogram, harga getah karet anjlok ke level Rp 17.000/kg dalam sepekan terakhir. Tak hanya harga harian, harga bulanan juga ikut tertekan dari Rp 22.000/kg menjadi Rp 19.000/kg.
Dapit, petani asal Desa Badar Agung, Kecamatan Gunung Meraksa, mengatakan penurunan ini langsung terasa di kantong. "Pendapatan dari menyadap turun sekitar 50 persen dari sebelumnya," katanya, Senin (29/6).
Cuaca Ekstrem Memperparah Produksi
Bukan hanya harga yang jadi persoalan. Petani lain, Gusep, menyebut musim kemarau yang melanda wilayah setempat ikut memangkas volume produksi. "Hasil getah dari pohon karet yang disadap berkurang akibat dilanda kemarau," ujarnya.
Kondisi ini menjadi pukulan ganda. Di satu sisi, harga jual jatuh. Di sisi lain, pohon karet menghasilkan lebih sedikit getah karena kekeringan. Musim kemarau di Sumsel memang kerap memicu kebakaran hutan dan lahan, tapi dampaknya kini juga dirasakan langsung oleh pekebun.
APKRINDO: Ini Koreksi Pasar, Petani Jangan Panik
Sekretaris Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKRINDO) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, menilai penurunan ini sebagai hal yang wajar. Menurutnya, harga getah karet dunia ikut turun sekitar Rp 2.189 per kilogram, sehingga harga lokal pun ikut menyesuaikan.
"Kondisi tersebut lebih tepat disebut sebagai penyesuaian harga atau koreksi pasar setelah sebelumnya harga terus menguat dalam beberapa bulan terakhir," katanya.
Rudi meminta petani tidak panik dan tetap menjaga kualitas getah sembari menunggu harga kembali pulih. "Kita tidak dapat mengendalikan harga karet dunia. Tapi para petani bisa meningkatkan kualitas hasil panen agar harga jualnya nanti maksimal saat harga membaik," ujarnya.
Bagaimana Petani Bertahan di Tengah Tekanan Harga?
Belum ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menyikapi anjloknya harga komoditas unggulan ini. Petani hanya bisa berharap harga kembali merangkak naik dalam beberapa pekan ke depan. Sementara itu, kualitas getah menjadi satu-satunya variabel yang masih bisa mereka kendalikan.
Bagi sebagian besar petani di OKU, karet masih menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga. Setiap penurunan harga sekecil apa pun berdampak langsung pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.