Bumi Sriwijaya tidak hanya dikenal dengan pempek dan Sungai Musi. Provinsi ini juga menjadi tempat lahir sejumlah tokoh yang namanya diabadikan di jalan-jalan utama Palembang hingga buku pelajaran sejarah. Mereka bukan sekadar nama di papan nama—kontribusinya konkret, bisa diraba dampaknya.
Artikel ini tidak akan membahas semua. Hanya lima nama yang menurut saya, sebagai orang yang lahir dan besar di Palembang, paling mewakili semangat Sumatera Selatan. Bukan peringkat, melainkan potret pengabdian.
Nama ini pasti muncul pertama kali kalau bicara perlawanan terhadap kolonial di Sumsel. Sultan Mahmud Badaruddin II memimpin Kesultanan Palembang Darussalam dalam dua kali perang melawan Belanda, tahun 1819 dan 1821. Ia bukan sekadar simbol—ia memimpin langsung perlawanan di Benteng Kuto Besak.
Setelah kalah, ia diasingkan ke Ternate hingga wafat. Tapi semangatnya tidak ikut mati. Namanya kini melekat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, gerbang utama Palembang. Setiap kali pesawat mendarat di sana, kita diingatkan bahwa kota ini pernah diperintah oleh seorang sultan yang memilih pengasingan ketimbang menjadi boneka kolonial.
Sebelum ada Palembang modern, di lokasi yang sama berdiri Kerajaan Sriwijaya, pusat pembelajaran Buddha terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-13. I-Tsing, biksu asal Tiongkok, singgah di sini pada 671 M untuk belajar bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Warisan Sriwijaya bukan hanya candi dan prasasti. Sistem maritim dan diplomasinya menginspirasi cara kita memandang Nusantara sebagai satu kesatuan. Banyak sejarawan percaya, konsep "Nusantara" pertama kali terbentuk dari jaringan pelabuhan Sriwijaya. Tanpa peradaban ini, Sumatera Selatan mungkin tidak akan memiliki identitas sekuat sekarang.
Nama Aziz Saleh mungkin tidak setenar pahlawan nasional lain, tapi jasanya di bidang pendidikan sangat fundamental. Ia adalah dokter lulusan STOVIA (sekolah kedokteran era kolonial) yang aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Setelah proklamasi, ia menjabat Gubernur Sumatera Selatan periode 1946-1948.
Namun kontribusi terbesarnya adalah sebagai penggagas berdirinya Universitas Sriwijaya (Unsri) pada 1960. Kampus inilah yang kemudian melahirkan ribuan sarjana, termasuk banyak tokoh nasional dari Sumsel. Tanpa Aziz Saleh, mungkin tidak akan ada Fakultas Kedokteran Unsri yang kini menjadi salah satu yang tertua di luar Jawa.
A. Malik adalah pendiri Harian Umum Sumatera Ekspres, salah satu koran tertua dan paling berpengaruh di Sumsel. Ia memulai karier jurnalistiknya sejak zaman kolonial Belanda, dan konsisten membela kepentingan rakyat Sumsel melalui tulisan.
Di era 1960-1970-an, ketika akses informasi sangat terbatas, koran milik Malik menjadi jendela dunia bagi masyarakat Palembang. Ia mengajarkan bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi juga alat perjuangan. Sampai sekarang, Sumatera Ekspres tetap terbit, meski tantangan industri media kian berat.
Tidak bisa disebut satu nama, karena banyak. Tapi figur seperti Nungki Agustin (koreografer tari Gending Sriwijaya) dan para maestro musik tradisional Sumsel layak dicatat. Mereka yang memastikan tarian, lagu, dan adat istiadat Sumsel tidak punah di tengah gempuran budaya asing.
Tari Gending Sriwijaya, misalnya, bukan sekadar tarian selamat datang. Gerakannya mengandung filosofi tentang kejayaan maritim dan keramahan. Setiap kali tarian ini dipentaskan di acara resmi, ada pesan bahwa Sumsel adalah tanah yang pernah menjadi pusat peradaban dunia. Para seniman inilah yang menjaga pesan itu tetap hidup.
Apakah ada tokoh Sumsel yang berperan di tingkat nasional?
Banyak. Selain Aziz Saleh, ada nama seperti Prof. Dr. Ir. H. A. R. Tilaar, M.Sc.Ed., seorang tokoh pendidikan nasional yang lahir di Palembang. Ia dikenal sebagai arsitek reformasi pendidikan di Indonesia era 1990-an.
Siapa pahlawan perempuan dari Sumsel?
Ratu Ageng, istri Sultan Mahmud Badaruddin I, dikenal sebagai pemimpin yang cerdas dan turut serta dalam pemerintahan. Di era modern, nama Hj. Fatmawati (istri Soekarno) juga lahir di Bengkulu, bukan Sumsel.
Apakah ada tokoh Sumsel yang aktif di kancah internasional?
Ya, Sriwijaya sebagai kerajaan maritim memiliki hubungan diplomatik dengan India, Tiongkok, dan Arab. Di era modern, tokoh seperti Prof. Dr. Ir. H. A. R. Tilaar juga aktif di UNESCO dan organisasi pendidikan global.
Mengapa tokoh Sumsel jarang disebut di buku sejarah nasional?
Sebagian besar buku sejarah nasional masih berpusat di Jawa. Tapi perlahan mulai berubah. Peran Sriwijaya dan tokoh-tokoh Sumsel semakin diakui dalam kurikulum terbaru.
Di mana bisa belajar lebih dalam tentang tokoh Sumsel?
Kunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, atau perpustakaan Universitas Sriwijaya. Banyak arsip dan dokumen asli yang tersimpan di sana.
Tokoh-tokoh ini bukan sekadar nama di buku. Mereka adalah cermin bahwa Sumatera Selatan bukan daerah pinggiran. Dari sini lahir peradaban, perlawanan, pendidikan, dan budaya yang ikut membentuk Indonesia. Kalau ada yang bilang Sumsel hanya soal pempek, tunjukkan artikel ini.