SUMATERA SELATAN — SpaceX mengonfirmasi telah menurunkan orbit 260 satelit Starlink secara bertahap dalam beberapa hari terakhir. Satelit-satelit tersebut akan memasuki atmosfer Bumi dan terbakar habis — proses yang dikenal sebagai deorbit. Langkah ini bukan insiden darurat, melainkan bagian dari siklus hidup satelit generasi pertama yang sudah usang.
Setiap satelit Starlink dirancang dengan masa pakai sekitar lima tahun. Setelah itu, komponen elektroniknya mulai menua dan risiko kegagalan meningkat. SpaceX lebih memilih menurunkan orbit satelit-satelit ini secara terkendali daripada membiarkannya menjadi sampah antariksa yang membahayakan misi lain.
Proses deorbit memanfaatkan pendorong ion onboard untuk memperlambat satelit secara bertahap. Saat ketinggian turun drastis, gesekan dengan atmosfer akan membakar satelit hingga hancur total. SpaceX menyatakan tidak ada puing yang mencapai permukaan Bumi dalam proses ini.
Sejak 2019, SpaceX telah meluncurkan lebih dari 6.000 satelit Starlink. Dari jumlah itu, sekitar 500 satelit telah di-deorbit, termasuk 260 unit dalam gelombang terbaru ini. Angka tersebut masih jauh di bawah ambang batas yang bisa mengganggu layanan.
Bagi pelanggan Starlink di Indonesia — yang mulai beroperasi secara komersial pada pertengahan 2024 — insiden ini tidak menimbulkan gangguan berarti. SpaceX mengoperasikan ribuan satelit aktif secara simultan, sehingga pengurangan 260 unit tidak cukup signifikan untuk menurunkan kapasitas bandwidth atau meningkatkan latensi secara kasat mata.
Starlink menggunakan konstelasi satelit yang saling terhubung (mesh network). Ketika beberapa satelit pensiun, satelit lain di orbit yang sama akan mengambil alih trafik data secara otomatis. Pengguna hanya akan merasakan perbedaan jika jumlah satelit yang hilang mencapai ribuan dalam waktu singkat — skenario yang sangat kecil kemungkinannya.
Meski aman bagi pengguna, para peneliti mulai menyoroti dampak lingkungan dari deorbit massal. Setiap satelit Starlink mengandung material aluminium yang saat terbakar di atmosfer akan menghasilkan partikel aluminium oksida. Partikel ini bisa bertahan lama di lapisan stratosfer dan berpotensi memengaruhi lapisan ozon.
Studi dari University of California, Los Angeles (UCLA) pada 2024 memperkirakan bahwa jika seluruh konstelasi Starlink generasi pertama di-deorbit dalam waktu bersamaan, konsentrasi aluminium oksida di atmosfer atas bisa meningkat hingga 30 persen. SpaceX belum mengeluarkan tanggapan resmi atas temuan ini.
Untuk saat ini, para ilmuwan masih mengumpulkan data lebih banyak sebelum menyimpulkan dampak jangka panjangnya. Badan antariksa seperti NASA dan ESA juga mulai mendorong operator satelit untuk menggunakan material yang lebih ramah lingkungan pada generasi satelit berikutnya.
Spacex berencana meluncurkan satelit Starlink generasi kedua (Gen-2) yang lebih besar dan lebih efisien secara bertahap mulai 2026. Satelit Gen-2 dirancang dengan masa pakai lebih panjang dan material yang lebih mudah terurai saat re-entry.
Bagi pengguna di Indonesia, tidak ada tindakan yang perlu dilakukan. Layanan Starlink tetap berjalan normal, dan proses deorbit 260 satelit ini sudah selesai dalam beberapa hari ke depan. Jika ada perubahan signifikan pada kualitas layanan, SpaceX biasanya akan memberi pemberitahuan melalui aplikasi Starlink resmi.