Kepala Kanwil Kemenag Sumsel Syafitri Irwan di Palembang, Kamis, menegaskan momentum HAN 2026 dan HUT ke-81 RI menjadi ajang pembuktian perubahan positif dalam memastikan hak pendidikan berkualitas serta perlindungan layak bagi anak-anak.
"Kementerian Agama Sumsel terus bergerak memastikan bahwa anak-anak kita, baik yang menimba ilmu di madrasah, santri di pesantren, maupun siswa di sekolah-sekolah keagamaan, mendapatkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif," kata Syafitri.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pembentukan dan pengaktifan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di lingkungan madrasah dan pondok pesantren. Tim ini bertugas menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, perundungan (bullying), dan diskriminasi.
Selain itu, sosialisasi Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA) terus digelar secara berkesinambungan. Kegiatan ini melibatkan pengasuh pesantren, kepala madrasah, dan para tenaga pendidik agar pemahaman tentang perlindungan anak merata hingga ke tingkat pengelola.
Kemenag Sumsel juga memprioritaskan kesetaraan hak belajar melalui penyediaan fasilitas inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Beberapa fasilitas yang disiapkan meliputi rampa jalan akses, fasilitas sanitasi khusus, hingga metode pembelajaran yang adaptif.
Pembangunan dan revitalisasi gedung madrasah pun terus dilakukan untuk menjamin ruang kelas yang representatif dan sehat. Hal ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang menciptakan lingkungan pendidikan yang layak bagi seluruh anak.
Di sisi lain, peningkatan mutu pembelajaran dilakukan melalui integrasi Digital Madrasah. Program ini mencakup penyediaan laboratorium komputer, papan interaktif, dan perpustakaan digital. Namun, seluruh kemajuan teknologi ini tetap diimbangi dengan pembentukan karakter serta penanaman nilai moderasi beragama sejak dini.
"Seluruh capaian dan aksi nyata ini bermuara pada satu semangat utama, yaitu Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan," ujar Syafitri.
Program Pendidikan Ramah Anak di Sumsel ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.