Suhartini Ubah Pinang Jadi Penggerak Ekonomi Desa Sukakarya Musi Rawas, KWT Melati Raup Omzet Rp 8 Juta per Bulan

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:00:31 WIB
KWT Melati di Desa Sukakarya, Musi Rawas, mengolah pinang menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

MUSI RAWAS — Sebuah perubahan signifikan terjadi di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Komoditas pinang yang selama ini dipandang sebelah mata oleh warga, kini menjelma menjadi penggerak ekonomi yang menghidupi puluhan keluarga.

Inisiatif ini digagas oleh Suhartini, seorang perempuan asli desa setempat yang resah melihat 847 dari 1.842 penduduk usia produktif di Sukakarya tidak memiliki pekerjaan. Dari jumlah tersebut, 584 orang atau 69 persennya adalah perempuan yang rentan secara sosial dan ekonomi.

Awal Mula: Dari Polybag Jahe hingga Pelatihan di Lahat

Perjalanan Suhartini dimulai pada 2018 setelah ia mengikuti pelatihan pertanian dan kewirausahaan di Lahat, Sumatera Selatan. Sepulang dari pelatihan, ia mengumpulkan 15 perempuan desa dan membentuk KWT Melati. Langkah awal kelompok ini adalah budidaya jahe di dalam polybag, sebuah pilihan taktis karena Sukakarya kerap dilanda banjir yang membuat tanaman di kebun dan sawah rawan gagal panen.

Dengan modal patungan Rp 10 ribu per orang, mereka menanam sekitar 3.000 bibit jahe. Hasil panen kemudian diolah menjadi bandrek yang mulai dikenal warga sekitar.

Mengapa Pinang Menjadi Pilihan?

Suhartini menyadari potensi yang lebih besar bisa digarap dari kebun pinang milik warga. Selama ini, warga menjual pinang ke tengkulak hanya dengan harga Rp 4.000 per kilogram, jauh di bawah harga pasar global yang rata-rata mencapai Rp 19 ribu per kilogram. Bahkan, banyak warga yang memilih menebang pohon pinang untuk dijual saat musim lomba 17 Agustusan karena dianggap lebih menguntungkan.

Peluang itu mulai tergarap serius pada 2021 ketika PT Pertamina Pendopo Field melalui program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG) memberikan pelatihan teknis pertanian dan pengolahan pinang kepada ibu-ibu KWT Melati.

Produksi 900 Kilogram Pinang Kering per Bulan

Kegigihan Suhartini dan para anggotanya membuahkan hasil. Dari lahan 15 hektare, KWT Melati kini mampu memproduksi sekitar 900 kilogram pinang kering dan 200-300 kilogram pinang muda setiap bulannya. Pinang-pinang tersebut diolah menjadi beragam produk seperti kopi pinang, bandrek pinang, dan permen pinang, sementara daunnya dimanfaatkan sebagai pewarna eco-print.

Momentum pasar datang saat pandemi Covid-19 melanda. Tingginya permintaan minuman herbal membuat racikan jahe dan pinang buatan Suhartini laris manis dan terjual ke berbagai daerah.

Dampak Ekonomi bagi Perempuan Sukakarya

KWT Melati kini mencatatkan keuntungan bersih sekitar Rp 8 juta per bulan. Setiap anggota yang terlibat dalam proses produksi diupah Rp 12.500 per kilogram. Mereka juga diberi hak meminjam uang kas kelompok untuk keperluan pribadi seperti biaya sekolah anak hingga hajatan keluarga. Keanggotaan kelompok yang semula hanya 12 orang kini bertambah menjadi 30 orang.

"Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga dan desa melalui kemampuan kami mengolah potensi pinang dan tanaman herbal lainnya," ujar Suhartini.

Penghargaan dan Misi Berbagi ke Perempuan Lain

Kiprah Suhartini membawa KWT Melati rutin diundang dalam pameran di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional dan internasional. Pada 2024, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menobatkannya sebagai salah satu dari 20 pahlawan lokal dalam Local Heroes Inspiration Award 2024.

Kesuksesan ini tidak membuat Suhartini berpuas diri. Ia aktif memberikan pelatihan kepada perempuan-perempuan muda di daerahnya serta kelompok tani lain di Musi Rawas dan sekitarnya.

"Saya ingin semua perempuan percaya bahwa perempuan bukan kelas kedua. Kami perempuan dan kami bisa memberi dampak baik bagi sekitar," tegasnya.

Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Iwan Ridwan Faizal menyampaikan bahwa ketekunan Suhartini menjadi bukti bahwa perempuan mampu menjadi agen perubahan di tengah keterbatasan ekonomi dan sosial.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: populinews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top