PALEMBANG — Sebanyak 11.567 personel gabungan dikerahkan untuk menjinakkan api yang mengancam kawasan gambut dan hutan di Sumatera Selatan. Data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan konsentrasi titik api tertinggi berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 23 titik, disusul Musi Banyuasin 20 titik, dan Banyuasin 16 titik.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana, menegaskan bahwa potensi kebakaran masih sangat tinggi dan meminta seluruh elemen masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun. "Potensi karhutla di Sumatera Selatan masih cukup tinggi. Karena itu, kami terus meningkatkan patroli, pemantauan titik panas, pemadaman darat maupun udara, serta mengajak masyarakat ikut berperan aktif mencegah kebakaran," ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Berdasarkan pemantauan terbaru, titik panas juga terdeteksi di Lahat dengan 10 titik, Ogan Ilir 9 titik, dan OKU 8 titik. Sisanya tersebar di Musi Rawas Utara 6 titik, Empat Lawang 4 titik, Muara Enim dan Musi Rawas masing-masing 3 titik, serta satu titik di Kota Palembang.
BMKG melalui Fire Danger Rating System (FDRS) telah menempatkan sebagian besar wilayah Sumsel dalam kategori Very High atau sangat mudah terbakar. Kombinasi cuaca kering, luasnya kawasan gambut, serta sulitnya akses menuju lokasi kebakaran menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api.
Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi pemicu dominan karhutla di Sumsel. Kondisi angin yang cukup kencang turut mempercepat meluasnya kobaran api ke area yang lebih luas.
Dampak kabut asap mulai terasa di sejumlah daerah. ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) pada 3 Agustus 2026 mendeteksi asap kategori sedang atau moderate haze di Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin. Sementara itu, konsentrasi partikel PM2.5 di Ogan Ilir, Prabumulih, Musi Banyuasin, Muara Enim, Musi Rawas, dan Lahat tercatat berada pada kategori sedang.
Untuk mempercepat pemadaman, BPBD Sumsel menyiagakan satu pesawat patroli Cessna, satu helikopter patroli Airbus AS365 N2, serta lima helikopter water bombing yang ditempatkan di Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pasukan darat yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, Polisi Kehutanan, Satpol PP, hingga Kelompok Tani Peduli Api dikerahkan ke titik-titik rawan.
Iqbal menambahkan, pencegahan merupakan langkah paling efektif dibandingkan pemadaman. "Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk melindungi lingkungan, kesehatan masyarakat, serta menjaga kelestarian hutan dan lahan di Sumatera Selatan," tutupnya.
Masyarakat diminta segera melaporkan jika menemukan titik api dan tidak membuang puntung rokok sembarangan di area rawan kebakaran.