Konsentrasi PM2.5 di Palembang Tembus 144,4 µg/m³, BMKG Imbau Warga Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Penulis: Nasrul Effendi  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 15:42:31 WIB
Warga melintas di tengah kabut asap yang menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (tanggal).

PALEMBANG — Kabut asap kiriman dari titik api di sejumlah wilayah Sumatera Selatan kembali menyelimuti ibu kota provinsi. Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikel halus berukuran di bawah 2,5 mikrometer (PM2.5) di Stasiun Musi 2 Palembang berada di angka 144,4 µg/m³.

Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat dan bahkan menyentuh level merah atau sangat tidak sehat pada rentang waktu dini hari hingga pagi. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyebut kabut asap hasil karhutla yang terbawa angin menjadi pemicu utama memburuknya kualitas udara.

Masker dan Kacamata Wajib bagi Warga yang Keluar Rumah

Wandayantolis mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri beraktivitas di luar ruangan, khususnya bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Imbauan ini dikeluarkan menyusul tingginya konsentrasi partikel halus yang dapat terhirup dan mengganggu kesehatan.

“Jika terpaksa harus ke luar rumah, baiknya melindungi diri dengan masker dan kacamata,” ujarnya di Palembang, Jumat.

Pihaknya juga menegaskan bahwa kondisi udara yang tidak sehat ini tidak berlangsung sepanjang hari. Polusi cenderung membaik saat matahari naik dan suhu udara meningkat, namun kewaspadaan tetap diperlukan karena potensi kabut asap bisa kembali muncul pada malam hari.

Apa Itu PM2.5 dan Mengapa Berbahaya?

PM2.5 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 mikrometer (µm). Ukurannya yang sangat halus membuat partikel ini mampu menembus saluran pernapasan hingga ke alveoli paru-paru dan masuk ke aliran darah.

Pengukuran konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang dilakukan menggunakan metode penyinaran Sinar Beta atau Beta Attenuation Monitoring dengan satuan mikrogram per meter kubik. Metode ini menjadi standar untuk memantau kualitas udara secara real-time.

Paparan dalam waktu singkat saja bisa memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Untuk warga dengan kondisi paru-paru sensitif, risiko serangan asma hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat signifikan.

Karhutla di Sumsel Jadi Biang Kerok

BMKG memastikan bahwa melonjaknya polusi udara di Palembang bukan berasal dari polusi kendaraan bermotor atau aktivitas industri perkotaan. Sumber utamanya adalah asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera Selatan.

Angin membawa partikel asap dari lokasi karhutla menuju pusat kota, menciptakan lapisan kabut tebal yang menurunkan jarak pandang dan kualitas udara. Kondisi ini biasanya memburuk pada musim kemarau ketika lahan gambut mudah terbakar.

Warga diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG atau Dinas Lingkungan Hidup setempat untuk mengetahui perkembangan kualitas udara sebelum memulai aktivitas harian.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top