Kualitas Udara Palembang Kritis, BMKG Catat PM2.5 Tembus 180 Mikrometer dan Ancam Kesehatan Warga

Penulis: Hendra Mukhtar  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:24:01 WIB
Konsentrasi PM2.5 di Palembang tercatat mencapai 180 mikrometer pada Jumat (14/8/2026) dini hari, masuk kategori sangat tidak sehat.

PALEMBANG — Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menekan kualitas udara di Palembang. Data BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan menunjukkan konsentrasi Partikulat Matter (PM2.5) di kawasan Musi 2 sempat menyentuh angka 180 mikrometer pada pukul 01.00 WIB, Jumat (14/8/2026), level yang masuk kategori sangat tidak sehat.

Memasuki pukul 02.00 WIB, angka tersebut turun menjadi 98,5 mikrometer, namun masih berada pada level tidak sehat. Fluktuasi serupa juga terekam di Stasiun Talang Betutu, di mana PM2.5 melonjak hingga 113 mikrometer pada pukul 02.00 WIB sebelum kembali turun dan naik lagi ke angka 61,2 mikrometer pada pukul 08.00 WIB.

Pemicu Kabut Asap Berasal dari Karhutla Ogan Ilir dan OKI

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan perbedaan data di dua stasiun pemantau itu dipengaruhi arah angin. Wilayah Musi 2 dinilai paling dekat dengan lokasi titik api yang tersebar di Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir (OKI).

“Ini tergantung arah angin untuk sebarannya. Kalau dilihat dari arah angin, sepertinya memang begitu (berdekatan dengan lokasi karhutla),” kata Wandayantolis dalam keterangan tertulisnya.

BMKG memperkirakan kondisi ini akan terus berlangsung setidaknya hingga September 2026, seiring puncak musim kemarau yang masih melanda Sumatera Selatan. “Ini kan baru masuk puncak kemarau ya dan mungkin masih akan berlanjut sampai September,” ujarnya.

Imbauan untuk Warga dan Antisipasi Pemprov Sumsel

Menyikapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas. Sebaran partikel halus yang masuk ke kota dinilai berisiko bagi kesehatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

“Baiknya mulai mengurangi aktivitas di luar ruang,” jelas Wandayantolis.

Di sisi lain, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mengambil langkah lebih tegas apabila indeks standar pencemar udara (ISPU) terus memburuk. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah meliburkan aktivitas sekolah.

“Kalau ISPU-nya sudah tidak bisa ditoleransi, tentu kita ambil kebijakan,” kata Herman Deru, Jumat (14/8/2026).

Keselamatan Warga Jadi Prioritas Utama

Herman Deru menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan. Ia tidak ingin warga, khususnya anak-anak, terpapar dampak buruk dari udara yang tidak sehat dalam jangka panjang.

“Kita tidak mau anak-anak atau kita semua ini terpapar akibat ISPU yang tidak sehat. Tapi selama ini masih di ambang batas yang bisa ditoleransi,” tutupnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan saat ini terus memperkuat upaya penanganan kebakaran di lapangan, termasuk patroli terpadu dan pembasahan lahan gambut, untuk mencegah asap semakin meluas ke kawasan permukiman.

Reporter: Hendra Mukhtar
Sumber: sumselupdate.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top