Universitas Bengkulu Ubah Limbah Kelapa Jadi Briket, 20 Pemuda Desa Pasar Kerkap Ikut Pelatihan

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:03:31 WIB
Peserta pelatihan pembuatan briket dari limbah kelapa mengikuti praktik pencetakan arang di Desa Pasar Kerkap, Bengkulu Utara, 16 Agustus 2026.

SUMATERA SELATAN — Desa Pasar Kerkap di Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara, selama ini akrab dengan limbah perkebunan yang melimpah. Kulit kelapa, serbuk kayu, dan ranting-ranting sisa tebangan kerap dibakar atau dibiarkan membusuk di pinggir lahan. Padahal, material tersebut menyimpan potensi besar sebagai sumber energi alternatif.

Tim dosen Fakultas Teknik Universitas Bengkulu melihat peluang itu. Melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, mereka menggelar pelatihan pembuatan briket arang bagi anggota Karang Taruna setempat. Kegiatan berlangsung pada 16 Agustus 2026 dan diikuti 20 pemuda desa.

Teknologi Sederhana, Bahan Melimpah

Ketua tim pelaksana, Dr. Ir. Zuliantoni, S.T., M.T., menjelaskan bahwa teknologi yang diperkenalkan tidak membutuhkan peralatan rumit. Prinsipnya memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar warga dengan proses yang mudah dipelajari.

Pelatihan mencakup seluruh rantai produksi: pengenalan jenis biomassa, proses karbonisasi atau pengarangan, penggilingan arang, pembuatan perekat alami, pencampuran, pencetakan, hingga pengeringan briket. Metode ini dirancang agar bisa langsung diterapkan di tingkat rumah tangga maupun usaha kecil.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa limbah perkebunan itu bukan sampah, melainkan bahan baku energi yang bisa diolah sendiri,” ujar Zuliantoni yang juga dosen Jurusan Teknik Mesin Unib. Ia didampingi dua anggota tim, Nurul Iman Supardi, S.T., M.P., dan Dr. Ir. Khairul Amri, S.T., M.T.

Potensi Ekonomi Baru bagi Karang Taruna

Bagi para pemuda desa, keterampilan ini membuka peluang usaha baru. Briket arang memiliki pasar yang jelas, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga industri makanan skala kecil yang membutuhkan bahan bakar dengan panas stabil dan tahan lama.

Dibandingkan kayu bakar atau arang konvensional, briket dari biomassa memiliki keunggulan: nilai kalor lebih tinggi, waktu bakar lebih lama, dan asap yang dihasilkan lebih sedikit. Produk ini juga bisa menjadi alternatif pengganti bahan bakar fosil yang semakin mahal.

Indonesia sendiri memiliki sumber biomassa yang sangat besar. Limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga sampah organik rumah tangga sejatinya dapat dikonversi menjadi energi terbarukan. Namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal karena minimnya pengetahuan dan keterampilan di tingkat akar rumput.

Langkah Kecil untuk Energi Mandiri

Program ini menjadi salah satu upaya mendorong kemandirian energi di tingkat desa. Dengan bahan baku yang melimpah dan teknologi yang terjangkau, desa-desa penghasil kelapa dan komoditas perkebunan lain berpotensi memproduksi energi mereka sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar.

Ke depan, tim pengabdian Unib diharapkan dapat memperluas jangkauan pelatihan ke desa-desa tetangga. Jika adopsi teknologi ini meluas, bukan tidak mungkin briket biomassa menjadi komoditas ekonomi baru yang menggerakkan perekonomian pedesaan di Bengkulu Utara.

Langkah kecil di Pasar Kerkap ini setidaknya membuktikan satu hal: solusi energi terbarukan tidak selalu datang dari teknologi mahal, tetapi bisa dimulai dari memanfaatkan apa yang selama ini dianggap tidak berharga.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: bengkuluekspress.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top