PALEMBANG — Satu unit helikopter water bombing bantuan BNPB dikirim dari Rusia untuk memperkuat operasi pemadaman karhutla di Sumatera Selatan. Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan armada tersebut saat ini sedang dalam perjalanan menuju Palembang.
"Bantuan itu akan segera datang karena saat ini sedang dalam perjalanan dari Rusia menuju ke Kota Palembang," kata Sudirman di Palembang, Rabu (19/8/2026).
Dengan tambahan satu unit tersebut, total armada udara yang dikerahkan untuk menangani karhutla di Sumsel menjadi sembilan helikopter. Saat ini, delapan helikopter telah beroperasi terdiri dari dua unit untuk patroli dan enam unit untuk water bombing.
Penambahan armada dinilai mendesak karena sejumlah lokasi kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. "Dengan eskalasi karhutla di Sumsel yang terus meningkat, kita akan mendapatkan tambahan satu unit helikopter water bombing dari BNPB," ujarnya.
Hasil pemantauan tim gabungan pada 18 Agustus 2026 mencatat 37 titik kejadian karhutla yang tersebar di sejumlah daerah. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan temuan terbanyak mencapai 11 titik, disusul Ogan Ilir tujuh titik, Muara Enim lima titik, OKU Timur lima titik, PALI empat titik, dan Palembang dua titik.
Pada hari yang sama, luas lahan terbakar bertambah sekitar 93,5 hektare. Satgas darat baru menangani sekitar 10 hektare, sementara operasi water bombing menjatuhkan air pada area sekitar tiga hektare.
BPBD memusatkan penanganan di tiga wilayah yang membutuhkan perhatian lebih, yakni OKI, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Di OKI, pemadaman dilakukan di Kecamatan Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, dan Tanjung Lubuk. Sementara di Muara Enim, titik penanganan berada di Kecamatan Gelumbang, dan di Musi Banyuasin operasi difokuskan di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir.
BPBD Sumsel mencatat karhutla di wilayahnya telah mencapai 1.470 kejadian sejak 1 Januari hingga 18 Agustus 2026. Berdasarkan data Sipongi KLH hingga Juli 2026, indikasi luas karhutla di Sumsel mencapai 1.926,2 hektare.
Angka tersebut menunjukkan tantangan penanganan masih cukup besar, terlebih Sumsel tengah berada pada periode musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran. (THQ)