PALEMBANG — Suhu udara di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) diprakirakan masih akan terasa terik dan gerah setidaknya hingga pekan terakhir Agustus 2026. Kondisi ini dipicu oleh dominasi musim kemarau yang membuat tutupan awan berkurang drastis, sehingga paparan sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa penghalang.
Berdasarkan informasi iklim terbaru yang dirangkum dari berbagai sumber Jumat (21/8/2026), BMKG Sumsel mencatat sebagian besar wilayah provinsi ini mengalami curah hujan kategori rendah pada awal hingga pertengahan Agustus. Kondisi kering ini diperkirakan masih akan bertahan.
BMKG Sumsel memprakirakan peluang terjadinya curah hujan rendah pada dasarian II Agustus 2026 mencapai lebih dari 90 persen di seluruh wilayah Sumatera Selatan. Artinya, masyarakat hampir mustahil merasakan hujan dalam dua pekan terakhir bulan ini.
Wilayah Sumsel bagian tengah hingga timur bahkan berpotensi mengalami akumulasi curah hujan di bawah 20 milimeter. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa suasana kering dan panas masih mendominasi, terutama di daerah dataran rendah seperti Kota Palembang, Banyuasin, dan Ogan Ilir.
Berkurangnya tutupan awan menjadi kunci utama fenomena ini. Saat langit cerah tanpa awan, radiasi matahari yang masuk ke bumi tidak terhalang, sehingga suhu permukaan meningkat lebih cepat dibandingkan hari-hari berawan.
Akibatnya, aktivitas di luar ruangan pada siang hingga sore hari menjadi kurang nyaman. Masyarakat yang harus beraktivitas di bawah terik matahari disarankan untuk menjaga hidrasi dan menghindari paparan langsung dalam durasi panjang.
Catatan suhu pada periode sebelumnya juga menunjukkan kondisi panas yang cukup signifikan di wilayah Sumsel. Meski belum ada data resmi mengenai angka ekstrem terbaru, tren peningkatan panas harian dirasakan langsung oleh warga di permukiman padat seperti Ilir Barat Satu dan Seberang Ulu.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada. Memasuki akhir Agustus, transisi menuju musim pancaroba biasanya ditandai dengan cuaca yang lebih dinamis, namun hingga saat ini dominasi kemarau masih menjadi faktor utama pemicu suhu panas di Sumatera Selatan.