PALEMBANG — Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada kelompok penduduk berpendidikan tinggi di Sumatera Selatan menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), TPT untuk lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 mencapai 7,19 persen, sementara TPT provinsi secara keseluruhan hanya 3,60 persen.
Kepala Disnakertrans Sumatera Selatan Indra Bangsawan menegaskan tingginya angka tersebut tidak berarti pendidikan tinggi justru mempersulit seseorang mendapat kerja. Menurutnya, persoalan utamanya adalah ketidakcocokan antara keahlian yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri yang terus bertransformasi.
"Penguatan keterhubungan antara lembaga pendidikan dan dunia usaha menjadi penting agar lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja," ujarnya di Palembang, Kamis (20/8/2026).
Untuk menjembatani kesenjangan itu, Disnakertrans Sumsel tidak bekerja sendiri. Mereka berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan serta pelaku industri untuk merancang program yang lebih aplikatif.
Beberapa langkah konkret yang tengah dijalankan antara lain:
Indra menambahkan, pembangunan ketenagakerjaan ke depan tidak bisa hanya diukur dari jumlah orang yang terserap. Struktur perekonomian Sumatera Selatan juga harus mampu menciptakan lapangan kerja yang menuntut keahlian tinggi.
"Yang terpenting bukan hanya berapa banyak tenaga kerja yang terserap, tetapi juga bagaimana struktur perekonomian dan penciptaan lapangan kerja di Sumatera Selatan mampu menyediakan semakin banyak pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja berkompetensi tinggi," kata dia.
Pemerintah berharap penguatan kualitas sumber daya manusia ini berjalan seiring dengan pertumbuhan sektor industri di Sumatera Selatan, sehingga kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja bisa terus dipersempit.