PALEMBANG — Cipayung Plus Sumatera Selatan mengambil langkah di luar kebiasaan dengan memilih menginap di Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Jumat (21/8). Aksi ini bukan sekadar penyampaian aspirasi, melainkan bentuk konsistensi untuk mengawal penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai belum serius ditangani.
Koordinator aksi menyebutkan bahwa asap yang dihasilkan dari karhutla bukan sekadar kabut biasa. "Asap bukan sekadar kabut. Ini adalah ancaman nyata bagi kesehatan, masa depan, dan keberlangsungan hidup masyarakat. Pemerintah tidak boleh hanya hadir ketika api sudah membesar, tetapi harus hadir sejak pencegahan, penanganan, sampai pemulihan pascakebakaran," tegasnya di lokasi aksi.
Keputusan untuk menginap diambil setelah aspirasi yang disampaikan dinilai hanya dijawab dengan pernyataan normatif. Cipayung Plus Sumsel menegaskan masyarakat tidak membutuhkan sekadar klaim bahwa pemerintah "sudah bekerja", melainkan tindakan nyata yang bisa diukur.
"Kami tidak datang untuk sekadar membuat keramaian. Kami datang untuk mengingatkan bahwa ada masyarakat yang menghirup asap, ada anak-anak yang aktivitasnya terganggu, ada lingkungan yang rusak, dan ada masa depan yang dipertaruhkan. Kalau pemerintah serius, buktikan dengan tindakan, bukan sekadar janji," ujar perwakilan mahasiswa tersebut.
Dalam aksinya, Cipayung Plus Sumatera Selatan menyampaikan 10 poin tuntutan yang mencakup pencegahan hingga penegakan hukum. Berikut rinciannya:
Cipayung Plus Sumsel menilai persoalan karhutla merupakan ancaman nyata terhadap berbagai sektor kehidupan. Mulai dari kesehatan masyarakat, lingkungan hidup, aktivitas pendidikan, hingga perekonomian warga Sumatera Selatan.
Organisasi mahasiswa ini juga meminta Pemprov Sumatera Selatan membuka ruang dialog dan memberikan penjelasan terbuka mengenai langkah konkret yang telah dan akan dilakukan. Mereka berjanji akan terus mengawal, memantau, dan mengevaluasi kebijakan pemerintah terkait penanganan karhutla di Sumatera Selatan.
Aksi yang diwarnai spanduk bertuliskan "Hutan Terbakar, Rakyat Tersesak, Pemerintah Harus Bertindak!" ini menjadi simbol bahwa persoalan karhutla harus mendapat perhatian serius, bukan sekadar janji di atas kertas.