PALEMBANG — Angka titik panas di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali memecahkan rekor tahun ini. BPBD Sumsel mencatat 600 hotspot terpantau dalam satu hari pada Jumat (21/8), melonjak tajam dari 449 titik yang terdeteksi sehari sebelumnya. Lonjakan ini sekaligus menjadi angka tertinggi sepanjang 2026 di provinsi yang kerap dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan kenaikan terjadi dua hari berturut-turut. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sebagian titik berada di kawasan gambut yang berpotensi besar meluas dan sulit dipadamkan.
"Jumlah hotspot kembali meningkat. Pada 20 Agustus tercatat 449 titik, kemudian pada 21 Agustus mencapai 600 titik. Ini menjadi jumlah hotspot tertinggi sepanjang 2026," kata Sudirman.
Berdasarkan data BPBD Sumsel, dari total 600 titik panas, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menyumbang angka paling besar dengan 251 titik. Rinciannya, 76 titik berada di lahan gambut dan 175 titik lainnya di lahan mineral.
Menyusul di bawahnya, Muara Enim mencatat 73 titik dengan rincian 15 titik di gambut dan 57 di lahan mineral. Musi Banyuasin tercatat 71 titik, terdiri dari 12 titik di lahan gambut dan 59 titik di lahan mineral. Adapun Banyuasin memantau 69 titik, dengan 15 titik di lahan gambut dan 54 titik di lahan mineral.
Wilayah lain yang turut mencatatkan hotspot cukup tinggi adalah Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dengan 37 titik dan Lahat sebanyak 21 titik. Menariknya, dua kota di Sumsel justru bersih dari pantauan titik api.
"Hanya Lubuklinggau dan Pagar Alam yang nihil hotspot," ungkapnya.
Sudirman menjelaskan, konsentrasi hotspot di lahan gambut menjadi kekhawatiran utama. Kondisi gambut yang kering di puncak kemarau membuat api mudah menyebar di bawah permukaan dan sulit dijangkau petugas, sehingga proses pemadaman bisa memakan waktu berhari-hari.
"Kenaikan jumlah hotspot ini menjadi perhatian karena sebagian titik terpantau berada di kawasan lahan gambut yang memiliki potensi lebih besar untuk mengalami kebakaran dan sulit dipadamkan jika api sudah meluas," jelasnya.
Menghadapi situasi ini, BPBD Sumsel meningkatkan frekuensi groundcheck baik melalui jalur darat maupun udara untuk memastikan titik panas benar-benar berubah menjadi kebakaran. Koordinasi dengan pihak terkait juga terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya karhutla.
"Upaya groundcheck kita tingkatkan untuk mengantisipasinya adanya karhutla, baik melalui darat dan udara. Kondisi cuaca saat ini juga sudah puncak kemarau, dimana sumber air juga makin sulit. Kita mengimbau seluruh pihak untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar," tukasnya.