SUMATERA SELATAN — Pasar otomotif Indonesia sedang mengalami perombakan besar-besaran. Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk periode Januari–Juli 2026, kendaraan berbasis listrik perlahan menggeser dominasi mobil konvensional. Permasalahannya, tidak semua teknologi elektrifikasi tumbuh sama cepatnya.
Mobil listrik murni mencatat kenaikan paling tajam. Distribusi dari pabrik ke dealer menembus 83.758 unit sepanjang tujuh bulan pertama 2026, meningkat 88,6% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Angka ini tidak lepas dari keistimewaan yang melekat pada mobil listrik di Indonesia: pembebasan aturan ganjil-genap, pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB/BBNKB), serta insentif PPN. Kombinasi itu jelas berhasil mendorong konsumen beralih lebih cepat ketimbang teknologi hibrida.
Mobil hybrid non-plug-in (HEV) juga tumbuh, tapi lajunya jauh lebih lambat. Tercatat 50.138 unit terdistribusi hingga Juli 2026, naik 42,9% dari tahun sebelumnya. Memang masih positif, tetapi kurang dari setengah pertumbuhan BEV.
Alasan utamanya kembali pada insentif. Hybrid tidak mendapat perlakuan khusus dari pemerintah seperti mobil listrik murni. Harga jualnya juga masih premium — seringkali selisih jutaan rupiah dibanding versi bensin atau diesel yang setara. Bagi pembeli yang mengincar efisiensi jangka panjang, hitungannya kerap lebih menguntung ke BEV.
Plug-in hybrid (PHEV) justru mencatatkan peningkatan persentase paling ekstrem: 6.988 unit dibanding 2.088 unit tahun lalu — naik sekitar 234%. Namun angka ini masih sangat kecil secara volume. Artinya, PHEV tetap menjadi segmen minoritas di pasar kita, meski diminati segelintir pengguna yang menginginkan fleksibilitas tenaga listrik dan bensin.
Di sisi lain, mobil bermesin pembakaran internal (ICE) makin kehilangan pamor. Penjualan LCGC anjlok 16,5% menjadi 64.633 unit, sementara pasar ICE secara keseluruhan merosot 41,8% dalam empat tahun terakhir — dari 869.153 unit pada 2022 menjadi 505.857 unit pada 2025.
Kalangan konsumen mulai menghindari mobil yang hanya mengandalkan BBM. Tingginya harga bahan bakar nonsubsidi yang fluktuatif membuat perhitungan biaya pemakaian harian menjadi jauh lebih penting.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan tren ini dalam siaran persnya, Kamis (27/8/2026): "Dengan harga BBM nonsubsidi ikut fluktuasi harga, maka masyarakat juga melihat bahwa penggunaan electric vehicle (EV) itu akan menghemat biaya. Maka di semester satu ini peningkatan pertumbuhan daripada kendaraan yang berbasis pada hybrid itu 40 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi ini sebuah angka yang sangat baik, berarti masyarakat sudah ada kesadaran untuk menggunakan tenaga listrik."
Pertumbuhan penjualan tidak otomatis berarti semua teknologi elektrifikasi cocok buat kamu. Untuk BEV, pastikan rumah atau kantor punya akses pengisian daya yang mudah. Infrastruktur charging masih terbatas di luar kota besar — ini merupakan kekurangan yang sering diabaikan konsumen saat melihat angka penjualan.
Untuk hybrid, kelemahan yang paling sering dirasakan adalah beban perawatan dual-system yang bisa lebih besar dari mobil biasa. Sementara untuk BEV, nilai jual kembali masih menjadi pertanyaan besar hingga pasar bekas-nya matang.
Kembali ke data: 83.758 unit BEV vs 50.138 unit HEV adalah sinyal kuat bahwa insentif memengaruhi keputusan beli lebih dari sekadar kalkulasi konsumsi BBM. Jika kamu berencana membeli mobil elektrifikasi, jangan cuma melihat angka kenaikan — pertimbangkan dulu pola pemakaian dan infrastruktur di wilayahmu.