PALEMBANG — Tarian tradisional Sumatera Selatan tumbuh subur di tengah masyarakat Palembang dan daerah sekitarnya. Kesenian ini bukan hanya menyuguhkan gerak yang indah, tetapi juga membawa cerita tentang penghormatan, kehidupan keluarga, hingga sejarah panjang kawasan yang pernah menjadi pusat perdagangan dan kekuasaan. Ragamnya pun luas: ada Gending Sriwijaya yang lekat dengan penyambutan, Tari Tanggai dengan simbol penghormatan, Pagar Pengantin yang hadir dalam pesta perkawinan, serta berbagai tari daerah lainnya.
Keragaman Tari Sumatera Selatan dan Akar Sejarahnya
Keragaman tari di Sumatera Selatan berakar dari luasnya wilayah dan pertemuan berbagai kebudayaan. Palembang berkembang sebagai kawasan perdagangan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar. Sementara itu, komunitas di luar Palembang memiliki sejarah, bahasa, adat, dan lingkungan sosial yang berbeda.
Istilah "tari Sumatera Selatan" tidak merujuk pada satu bentuk kesenian yang seragam. Ada tari yang berfungsi sebagai penyambutan, berkaitan dengan perkawinan, hingga hadir dalam acara resmi atau pertunjukan budaya. Setiap tarian menyimpan fungsi dan makna yang berbeda.
Gending Sriwijaya: Warisan Budaya Takbenda dengan SK Nomor 270/P/2014
Tari Gending Sriwijaya merupakan karya budaya Sumatera Selatan yang paling dikenal, terutama dalam penyambutan tamu kehormatan. Karya ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 270/P/2014 dan dicatat sebagai seni pertunjukan dari Kota Palembang. Data Warisan Budaya Kemendikbud mencatat susunan pertunjukan yang khas: sembilan penari, dua pembawa tombak, dan seorang pembawa payung.
Makna Tepak dalam Prosesi Penyambutan
Tepak menjadi elemen penting karena berhubungan dengan tradisi penyambutan. Sirih dan pinang dalam kebudayaan Melayu-Nusantara memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari tata pergaulan dan penghormatan. Ketika ditempatkan dalam prosesi tari, benda ini bukan sekadar properti visual—ia menyampaikan pesan keramahan.
Gending Sriwijaya terasa kuat ketika dipahami sebagai bahasa penghormatan yang diterjemahkan melalui gerak. Penari terdepan membawa tepak berisi sirih pinang ketika bergerak menuju orang yang dihormati.
Tari Tanggai: Kelembutan Gerak dan Kuku Khas
Tari Tanggai sangat identik dengan Palembang dan Sumatera Selatan. Tari ini sering digunakan dalam konteks penyambutan tamu, dengan gerakan yang menonjolkan kelembutan tangan dan posisi tubuh yang anggun. Penggunaan kuku tanggai menjadi karakter visual yang membedakannya dari tari lain.
Tanggai memperlihatkan bagaimana gerak tubuh dapat membawa pesan sosial. Tangan yang terbuka, gerak yang terukur, serta sikap tubuh yang anggun membangun suasana penerimaan terhadap tamu.
Ciri yang Mudah Dikenali
- Penari umumnya tampil dalam kelompok.
- Gerakan tangan menjadi bagian penting.
- Kuku tanggai menjadi elemen khas.
- Busana bernuansa adat Palembang digunakan.
- Tari dapat hadir dalam acara penyambutan dan kegiatan budaya.
Tari Pagar Pengantin: Karya 1960-an untuk Resepsi Pernikahan
Jika Gending Sriwijaya dekat dengan penyambutan, Pagar Pengantin memiliki hubungan kuat dengan pesta perkawinan. Kajian akademik di Palembang menjelaskan bahwa tari ini berkembang sebagai tari pembuka pada resepsi pernikahan. Penelitian tersebut mencatat proses penciptaannya pada sekitar 1960-an oleh Hj. Sukainah A. Rojak.
Tari ini menarik karena tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan. Gerak dan perlengkapannya memiliki hubungan dengan gagasan mengenai kehidupan pengantin setelah memasuki perkawinan.
Hubungan dengan Tradisi Perkawinan
Tari Pagar Pengantin dapat ditemukan dalam konteks resepsi perkawinan, khususnya dalam masyarakat Palembang. Kajian mengenai perkembangannya menyebut adanya unsur gerak yang berkaitan dengan tari adat Sumatera Selatan, termasuk Gending Sriwijaya, Tepak Keraton, Tanggai, Lilin Siwa, dan Penguton. Dengan demikian, Pagar Pengantin memperlihatkan bahwa tradisi tari tidak selalu berdiri sendiri.
Satu karya dapat menyerap unsur gerak dari tradisi yang lebih tua dan kemudian berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Lilin Siwa, Tepak Keraton, dan Penguton: Tari Persembahan Palembang
Tari Lilin Siwa termasuk dalam khazanah tari Palembang. Namanya berkaitan dengan lilin dan Siwa, yang mencerminkan lapisan sejarah budaya dalam perkembangan seni pertunjukan kawasan tersebut. Tari ini memiliki karakter gerak dan visual yang berbeda dari tari penyambutan seperti Gending Sriwijaya atau Tanggai.
Sementara itu, Tepak Keraton juga dikenal dalam lingkungan tari tradisional Palembang. Nama "tepak" kembali mengingatkan pada tradisi penyambutan dan pemberian sirih. Dalam konteks pertunjukan, tepak menjadi simbol penghormatan dan tata krama.
Adapun Penguton merupakan salah satu nama tari yang tercatat dalam kelompok tari adat persembahan Sumatera Selatan. Kajian mengenai Tari Pagar Pengantin mencantumkan Penguton bersama Gending Sriwijaya, Tepak Keraton, Tanggai, dan Lilin Siwa sebagai tari persembahan yang menjadi bagian dari tradisi daerah.
Nilai yang Terlihat dari Tari Persembahan
- Menghormati tamu.
- Menjaga kesopanan.
- Mengutamakan kelembutan.
- Menghadirkan simbol dalam upacara.
- Menghubungkan seni dengan kehidupan sosial.
Busana, Musik Pengiring, dan Properti Tari
Gerak tari tidak dapat dipisahkan dari busana karena pakaian membantu membentuk karakter pertunjukan. Busana tari Palembang umumnya memperlihatkan pengaruh kuat kain songket, aksesori kepala, hiasan tubuh, dan bentuk pakaian tradisional. Songket membuat pertunjukan memiliki karakter visual yang kuat; kilau benang dan motif kain membantu membangun suasana formal dan meriah.
Busana tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kostum panggung. Dalam konteks tradisional, pakaian merupakan bagian dari identitas dan simbol sosial.
Fakta Singkat Seputar Tari Sumatera Selatan
- Gending Sriwijaya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui SK Nomor 270/P/2014.
- Tari Pagar Pengantin diciptakan sekitar 1960-an oleh Hj. Sukainah A. Rojak.
- Gending Sriwijaya melibatkan sembilan penari, dua pembawa tombak, dan seorang pembawa payung.
- Musik pengiring Pagar Pengantin menggunakan gendang, kenong, accordion, gong, serta vokal.
Properti yang Memiliki Fungsi Simbolik
Properti dalam tari bukan sekadar benda yang membuat pertunjukan terlihat menarik. Tepak berkaitan dengan tradisi penghormatan dan penyambutan. Tanggai memperkuat karakter gerak jemari pada Tari Tanggai. Nampan dalam konteks Pagar Pengantin tertentu digunakan sebagai bagian dari ruang simbolis pengantin perempuan. Adapun payung dan tombak menjadi bagian dari susunan pertunjukan Gending Sriwijaya.
Fungsi Tari dalam Kehidupan Masyarakat
Tari tradisional dapat hidup karena memiliki fungsi yang nyata. Gending Sriwijaya dan Tanggai dikenal kuat dalam fungsi penyambutan, di mana gerak tari menjadi cara menyatakan penghormatan kepada tamu. Pagar Pengantin memiliki hubungan erat dengan resepsi perkawinan di Palembang, menempatkan tari sebagai bagian dari perayaan keluarga.
Tari juga dapat hadir dalam festival, kegiatan pemerintah, acara pendidikan, pertunjukan seni, dan kegiatan pelestarian budaya. Fungsi tersebut membuat tari tetap memiliki ruang untuk berkembang tanpa harus kehilangan akar tradisionalnya.
Langkah Mengenalkan Tari kepada Generasi Muda
Pelestarian tidak cukup dengan menyimpan pakaian dan video pertunjukan. Tari perlu dipraktikkan, dipahami, dan diberi ruang untuk tampil. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mengadakan sanggar tari di sekolah atau komunitas, mendokumentasikan koreografi dan musik, serta mengajarkan sejarah di balik setiap tari.
Mengundang seniman lokal sebagai pelatih, menampilkan tari dalam kegiatan budaya, dan membuat dokumentasi digital yang mudah dipelajari juga penting. Mengajarkan penggunaan properti dengan benar dan memberikan konteks mengenai etika ketika tari digunakan dalam acara adat menjadi bagian tak terpisahkan.
Dengan cara ini, generasi muda memahami mengapa sebuah gerakan dan simbol dipertahankan.
FAQ Seputar Tari Sumatera Selatan
Apa tari tradisional yang paling terkenal dari Sumatera Selatan?
Gending Sriwijaya dan Tanggai termasuk yang sangat dikenal, khususnya dalam konteks penyambutan. Pagar Pengantin juga populer karena berkaitan dengan acara perkawinan.
Apa fungsi Tari Gending Sriwijaya?
Gending Sriwijaya berfungsi sebagai tari penyambutan. Data Warisan Budaya Indonesia mencatat adanya sembilan penari, pembawa tombak, pembawa payung, serta tepak berisi sirih pinang dalam susunan pertunjukannya.
Apakah Tari Pagar Pengantin hanya untuk Palembang?
Tari Pagar Pengantin sangat kuat kaitannya dengan Palembang dan Sumatera Selatan, terutama dalam resepsi perkawinan. Perkembangannya juga tercatat di daerah lain di Sumatera Selatan.
Mengapa kuku tanggai digunakan dalam tari?
Kuku tanggai memperkuat karakter visual dan gerak jari dalam Tari Tanggai. Bentuknya membuat gerakan tangan terlihat lebih panjang, lembut, dan ekspresif.
Apakah semua tari Sumatera Selatan berasal dari masa kerajaan?
Tidak. Sejarah setiap tari berbeda. Ada karya yang memiliki akar tradisi lama, sementara ada pula tari yang diciptakan atau dikembangkan pada masa yang lebih modern.
Penutup
Di balik setiap gerakan terdapat cara masyarakat menyampaikan penghormatan, kasih sayang, kegembiraan, dan identitas. Dari tepak yang disodorkan kepada tamu hingga gemerlap songket dalam pesta perkawinan, tari menjadi bahasa budaya yang terus bergerak. Selama dipelajari dan dipentaskan dengan pemahaman, tarian tradisional Sumatera Selatan akan tetap memiliki tempat di panggung masa kini tanpa kehilangan denyut sejarahnya.