SUMATERA SELATAN — Film terbaru Robert Pattinson, Primetime, resmi dilarang tayang di Malaysia setelah dinyatakan tidak lolos sensor oleh Lembaga Penapis Filem (LPF). Keputusan ini diumumkan distributor lokal Antenna Entertainment melalui pernyataan resmi di media sosial, disusul konfirmasi jaringan bioskop Golden Screen Cinemas (GSC). Larangan tersebut menandai batalnya jadwal edar film yang sebelumnya sudah mengalami penundaan.
Pihak Antenna juga meminta maaf atas kekecewaan yang timbul dan menyampaikan terima kasih kepada publik Malaysia atas dukungan serta minat terhadap film tersebut. Meski begitu, baik Antenna maupun LPF belum mengungkapkan poin spesifik atau pertimbangan yang menjadi dasar pelarangan tersebut.
Jaringan bioskop terbesar di Malaysia, Golden Screen Cinemas (GSC), turut mengonfirmasi pembatalan penayangan Primetime kepada calon penonton. Namun, GSC tidak menyebut secara eksplisit bahwa larangan sensor menjadi alasan penarikan film dari jaringan bioskop mereka.
"Antenna telah mengumumkan Primetime telah dibatalkan dan tidak akan lagi direncanakan tayang di Malaysia," tulis GSC dalam pengumumannya.
Hingga kini, pihak LPF belum mengeluarkan pernyataan publik resmi mengenai alasan penolakan izin tayang film tersebut.
Keputusan pelarangan ini muncul setelah Antenna dan TGV Cinemas lebih dulu mengumumkan penundaan jadwal rilis pada 19 September lalu. Kala itu, jadwal pemutaran Primetime di Malaysia yang semula direncanakan meluncur pada 1 Oktober digeser menjadi 8 Oktober.
Penundaan tersebut kini berujung pada pembatalan total setelah LPF memutuskan film tidak lulus sensor.
Disutradarai Lance Oppenheim, Primetime menempatkan Robert Pattinson sebagai pemeran utama sekaligus produser. Dalam film ini, Pattinson melakoni peran sebagai pembawa acara televisi fiksional yang terinspirasi dari sosok Chris Hansen, presenter acara reality show NBC populer To Catch a Predator.
Sejumlah nama turut membintangi film ini, di antaranya Merritt Wever, Skyler Gisondo, serta musisi Phoebe Bridgers. Penulisan naskahnya terinspirasi dari laporan investigasi majalah Esquire terbitan 2007 yang mendokumentasikan kontroversi di balik proses produksi acara televisi tersebut.
Sebelum gagal tayang di Malaysia, Primetime telah lebih dulu menggelar world premiere di Venice International Film Festival pada 5 September. Film ini kemudian dirilis di Amerika Utara pada 25 September.
Belum ada informasi mengenai rencana penayangan Primetime di bioskop Indonesia. Keputusan LPF ini menambah daftar film internasional yang gagal menembus pasar Malaysia karena persoalan sensor, sekaligus menjadi perhatian bagi distributor di kawasan Asia Tenggara yang ingin memasarkan karya serupa.