Rupiah Melemah 0,28% ke Rp17.945 per Dolar AS, Tertekan Inflasi AS 3,7%

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 13:21:31 WIB
Pelemahan rupiah ke Rp17.945 per dolar AS terpantau pada perdagangan Kamis (15/10/2026).

SUMATERA SELATAN — Nilai tukar rupiah melemah 0,28% ke Rp17.945 per dolar AS pada perdagangan Kamis (15/10/2026), dibanding penutupan sebelumnya Rp17.895. Pelemahan dipicu inflasi Amerika Serikat September 2026 yang naik ke 3,7% secara tahunan, di atas konsensus 3,6% dan tertinggi sejak Mei 2026. Data itu memperkuat ekspektasi The Fed menahan suku bunga lebih lama, memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

Data Investing.com pukul 11.05 WIB menunjukkan USD/IDR naik 50,3 poin ke Rp17.945,3 dengan rentang harian Rp17.845,8 hingga Rp17.968,4. Rupiah sempat dibuka melemah 45 poin atau 0,25% ke Rp17.948 per dolar AS pada sesi pagi, menurut laporan Antara.

Pergerakan hari ini memperpanjang fase konsolidasi rupiah. Secara grafik, USD/IDR bergerak menyamping di kisaran Rp17.800-Rp17.950 sejak awal Oktober, setelah naik dari titik terendah sekitar Rp17.450 pada pertengahan September. Posisi terkini masih di bawah puncak 52 minggu di Rp18.197,5, tetapi dolar AS tercatat menguat 8,34% terhadap rupiah dalam setahun terakhir.

Inflasi AS Jadi Pemicu Utama Tekanan Rupiah

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai lonjakan inflasi AS menjadi faktor dominan. "Inflasi AS September 2026 naik ke 3,7% secara tahunan, di atas konsensus 3,6% dan tertinggi sejak Mei 2026," ujarnya, seperti dikutip Viva. Inflasi inti juga naik ke 2,6% dari sebelumnya 2,4%, memperkuat ekspektasi sikap The Fed yang lebih hawkish.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Funds Rate pun bergeser. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut peluang kenaikan 25 bps pada FOMC 27-28 Oktober naik ke sekitar 40%, dari sebelumnya 20%. Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,37% ke 102,55, sementara harga minyak Brent naik 0,35% ke US$106,1 per barel di tengah risiko pasokan dari Timur Tengah.

BI Jaga Pasar lewat Intervensi dan Pembelian SBN

Bank Indonesia menyatakan inflasi AS yang di atas perkiraan memicu sentimen risk-off dan arus keluar modal portofolio dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Erwin G. Hutapea dari BI, seperti dikutip Suara, menyebut yield US Treasury tenor 2 tahun naik hingga 12 bps ke 4,90%.

Meski begitu, BI menilai depresiasi rupiah secara quarter-to-date masih terbatas di 0,17% dan sejalan dengan mata uang regional. Otoritas moneter terus melakukan intervensi di pasar NDF offshore, spot, dan DNDF domestik, serta membeli SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa tercatat US$146,3 miliar per akhir September 2026.

Modal Asing Masih Masuk Rp131,1 Triliun

Dari sisi aliran modal, Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN KiTa menyebut modal asing yang masuk mencapai Rp131,1 triliun hingga awal Oktober. Pemasukan itu ditopang Surat Berharga Negara dan SRBI, menurut laporan IDX Channel.

Andry Asmoro menilai aliran masuk ke obligasi tersebut dapat membatasi tekanan terhadap rupiah. Kombinasi intervensi BI dan derasnya modal asing ke SBN menjadi penopang utama kurs di tengah tekanan eksternal.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi investor, pelemahan rupiah meningkatkan daya tarik obligasi domestik karena imbal hasil riil lebih kompetitif, terutama jika Fed benar-benar menahan suku bunga. Namun, importir dan perusahaan dengan utang valas perlu mencermati risiko kenaikan biaya. Eksportir justru mendapat angin segar karena penerimaan dalam dolar AS setara lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Pasar menanti data inflasi domestik dan sinyal lanjutan dari FOMC akhir Oktober untuk menentukan arah rupiah pada sesi berikutnya.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: pintu.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top