SUMATERA SELATAN — Indonesia Muslim Friendly Travel Summit yang digelar dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center, Jakarta, menyoroti pariwisata ramah muslim sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Posisi Indonesia di peringkat kedua Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 menjadi modal utama pengembangan sektor ini. Bank Indonesia pun menyiapkan tiga inisiatif strategis untuk memperkuat ekosistemnya.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menyebut pariwisata ramah muslim sebagai langkah penting memperkuat peran ekonomi syariah dalam mendukung kemandirian bangsa. Menurut dia, capaian peringkat kedua dunia itu harus diterjemahkan menjadi kualitas destinasi dan layanan yang lebih baik, bukan sekadar kebanggaan di atas kertas.
Pasar wisatawan muslim global diproyeksikan mencapai 260 juta perjalanan dengan pengeluaran tahunan sekitar US$310 miliar. Angka itu menjelaskan mengapa sejumlah negara berebut posisi di pasar yang sama.
Bank Indonesia mendorong tiga langkah strategis. Pertama, pemanfaatan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) untuk memetakan kesiapan dan potensi tiap daerah sebagai dasar perumusan kebijakan.
Kedua, penyusunan Peta Jalan Pariwisata Ramah Muslim Nasional sebagai pedoman pengembangan sektor yang lebih terarah dan terintegrasi. Ketiga, pelatihan bagi pengelola desa wisata untuk meningkatkan kualitas produk, layanan, dan daya saing destinasi.
Ricky menambahkan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan serta meningkatkan kapasitas daerah agar manfaat ekonominya lebih luas bagi masyarakat.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menekankan transformasi digital sebagai penentu daya saing destinasi Indonesia. Kementerian Pariwisata memperkuat promosi lewat Portal Visit Indonesia yang memuat informasi destinasi ramah muslim di 38 provinsi, mulai dari atraksi, aksesibilitas, fasilitas pendukung, hingga paket perjalanan.
Kementerian juga memakai teknologi kecerdasan artifisial melalui MaiA (Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia). Teknologi ini membantu wisatawan menemukan destinasi dan merancang perjalanan secara lebih personal.
"Kami tidak hanya ingin mengatakan kepada wisatawan, inilah indahnya Indonesia, tetapi juga memberi tahu mereka cara menikmati dan menjelajahinya," ungkap Widiyanti.
Pada September 2026, Bank Indonesia bersama Kementerian Pariwisata dan mitra terkait mengembangkan Indonesia Travel Pack. Inisiatif ini mengintegrasikan akses informasi destinasi, konektivitas digital, dan layanan pembayaran dalam satu kanal.
Langkah tersebut melengkapi pengembangan QRIS Antarnegara yang memudahkan transaksi wisatawan sekaligus memperluas peluang usaha bagi pelaku UMKM lokal. Bagi traveler, artinya pembayaran di destinasi semakin sederhana tanpa perlu menukar uang tunai dalam jumlah besar.
Secara global, industri pariwisata ramah muslim diproyeksikan tumbuh dari US$249 miliar pada 2024 menjadi US$424 miliar pada 2029, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 11,2 persen. Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026 menempatkan Indonesia di posisi keenam dunia untuk sektor ini.
Di tingkat nasional, pengembangan pariwisata ramah muslim masuk dalam RPJMN 2025–2029 sebagai Program Prioritas Ekonomi Syariah. Pemerintah menargetkan pertumbuhan sektor ini naik dari 10,28 persen pada 2025 menjadi 13,08 persen pada 2029.
"Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi salah satu pusat pariwisata ramah muslim dunia," kata Ricky dalam forum tersebut.
Bagi traveler yang merencanakan perjalanan, informasi destinasi ramah muslim di 38 provinsi bisa diakses melalui Portal Visit Indonesia. Untuk detail terbaru soal fasilitas dan paket perjalanan, sebaiknya konfirmasi langsung ke dinas pariwisata daerah setempat.