PALEMBANG — Sekretaris Daerah Kota Palembang Aprizal Hasyim menyatakan pembagian masker dimaksudkan melindungi masyarakat dari dampak buruk kabut asap. Masker diharapkan mengurangi paparan partikel pencemaran udara yang terhirup warga, khususnya saat kondisi udara tidak sehat.
Aprizal menegaskan bantuan ini merupakan tindakan menekan risiko paparan, bukan cara menghilangkan sumber asap atau memperbaiki kualitas udara dengan sendirinya.
Kabut asap yang menyelimuti Palembang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Asap dari wilayah itu terbawa hingga ke ibu kota provinsi dan membuat kondisi udara di sejumlah kawasan memburuk.
Peristiwa ini menyoroti dampak karhutla yang bisa meluas melampaui lokasi kebakaran. Asap bergerak menuju kawasan permukiman dan pusat aktivitas warga, bukan sekadar mengganggu jarak pandang.
Aprizal menyebut kualitas udara Palembang berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Pada Minggu pagi, AQI di sejumlah titik kota tercatat lebih dari 500, bahkan mencapai kisaran 700.
Perbedaan angka antartitik menunjukkan kondisi yang tercatat bisa bervariasi menurut lokasi pengukuran. Rentang itu memperlihatkan kabut asap yang mencapai Palembang berkaitan dengan udara yang masuk kategori berbahaya.
Data Minggu pagi hanya potret pada saat pengukuran dilakukan. Pemantauan kualitas udara diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi dari waktu ke waktu serta perbedaan antarwilayah.
Pemerintah Kota Palembang mengimbau warga mengurangi paparan kabut asap yang semakin pekat. Masyarakat diminta membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara memburuk.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga dianjurkan mengenakan masker agar paparan partikel asap berkurang. Imbauan ini penting diperhatikan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan masalah pernapasan.
Warga juga diminta menutup pintu dan jendela apabila asap mulai masuk ke dalam rumah. Langkah sederhana itu membantu mengurangi masuknya udara tercemar ke ruang dalam.
Masker yang diterima warga membantu mengurangi masuknya partikel asap, tetapi penggunaannya tidak menjamin perlindungan sepenuhnya dari seluruh risiko pencemaran. Karena itu, warga sebaiknya memperhatikan kondisi udara dan menjaga kesehatan selama periode kabut asap.
Pembagian 15 ribu masker pada 18 Oktober menjadi dukungan langsung kepada masyarakat. Langkah itu sekaligus pengingat bahwa paparan asap perlu ditangani dengan perlindungan yang konsisten dan penanganan karhutla yang berkelanjutan.