Kualitas Udara Palembang Masih Berbahaya, ISPU PM2,5 Capai 303 Sehari Setelah Hujan Turun

Penulis: Rizky Firmansyah  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 16:31:31 WIB
Kondisi kualitas udara di Palembang terpantau masih pekat akibat kabut asap pada Minggu pagi.

PALEMBANG — Hujan yang turun pada Sabtu (24/10/2026) memang sempat membawa harapan bagi warga Palembang. Sejumlah kawasan seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kapten A. Rivai, Pasar Cinde, Kenten Laut, hingga Kecamatan Sukarami dilaporkan diguyur hujan.

Namun data pengamatan ISPU parameter partikulat halus PM2,5 pada Minggu pagi menunjukkan kualitas udara belum membaik. Angka 303 menempatkan Palembang dalam kategori berbahaya, bukan sekadar tidak sehat.

PALI Paling Tinggi, Prabumulih dan Musi Rawas Menyusul

Kondisi serupa terjadi di sejumlah daerah lain di Sumatera Selatan. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mencatat ISPU PM2,5 sebesar 356, lebih tinggi dari Palembang.

Prabumulih berada di angka 232 dan Musi Rawas 227. Kedua daerah itu masuk kategori sangat tidak sehat, satu tingkat di bawah kategori berbahaya.

Peta angka ini menunjukkan ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum surut di sebagian besar wilayah Sumsel.

Mengapa Hujan Belum Cukup Membersihkan Udara Palembang?

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa pergerakan angin dan kemampuan udara bergerak secara vertikal menentukan penyebaran asap. Salah satu faktor yang ia soroti ialah lapisan inversi.

Lapisan inversi adalah kondisi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan atmosfer tertentu. Lapisan ini menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap terperangkap di dekat permukaan.

"Ketika atmosfer stabil dan inversi cukup kuat, konsentrasi polutan dapat meningkat, membuat udara semakin pekat dan jarak pandang menurun," kata Siswanto.

Sebaliknya, pergerakan udara yang mendukung pencampuran atmosfer membantu menyebarkan asap dan menurunkan konsentrasi polutan di dekat permukaan.

Radiosonde 24 Oktober: Energi Pembentukan Awan Terbatas

Pengamatan radiosonde atau profil atmosfer pada 24 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB menunjukkan energi pembentukan awan relatif terbatas. Peluang pertumbuhan awan hujan masih ada, tetapi tidak cukup untuk membersihkan polutan secara menyeluruh.

Sebelumnya, hasil pengamatan BMKG sempat menunjukkan perbaikan kualitas udara. Konsentrasi PM2,5 terpantau berada dalam kategori sedang, disertai peningkatan jarak pandang mendatar.

Perbaikan itu tidak bertahan lama. Perkembangan karhutla dan kondisi atmosfer kembali mendorong konsentrasi partikulat naik ke level berbahaya.

Warga Palembang Diminta Waspada Aktivitas Luar Ruang

Angka ISPU 303 masuk kategori berbahaya bagi kesehatan seluruh kelompok masyarakat. Warga Palembang perlu membatasi aktivitas luar ruang, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Pemantauan kualitas udara di Palembang dan kabupaten lain di Sumsel masih bergantung pada data ISPU PM2,5 yang diperbarui berkala. Perkembangan karhutla dan lapisan inversi atmosfer akan menentukan apakah angka itu turun dalam beberapa hari ke depan.

Reporter: Rizky Firmansyah
Sumber: relung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top