Pencarian

BI Pangkas GWM 2 Poin, Bank Besar Hanya Nikmati Efek 1 Poin

Jumat, 23 Oktober 2026 • 09:05:01 WIB
BI Pangkas GWM 2 Poin, Bank Besar Hanya Nikmati Efek 1 Poin
Bank Indonesia memangkas GWM rupiah rata-rata dari 9 persen menjadi 7 persen bagi bank konvensional.

SUMATERA SELATAN — Bank Indonesia memangkas Giro Wajib Minimum rata-rata 2 poin persentase, tetapi bank-bank besar diperkirakan hanya menikmati separuh dari tambahan likuiditas tersebut. Pemangkasan plafon insentif likuiditas makroprudensial memotong sebagian manfaat yang seharusnya diterima kelompok bank bermodal jumbo.

Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai pemangkasan GWM secara nominal terlihat besar karena berlaku luas bagi seluruh kelompok bank. Namun, penurunan plafon Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan mengurangi sebagian manfaat tersebut.

Dalam riset tertanggal 21 Oktober 2026, Nurkholis merinci BI memangkas GWM rupiah rata-rata dari 9 persen menjadi 7 persen untuk bank konvensional. Untuk bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS), GWM turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.

Dua Tahap Pemangkasan Mulai November 2026

Pelonggaran likuiditas dilakukan bertahap, masing-masing 1 poin persentase. Tahap pertama berlaku 1 November 2026, tahap kedua menyusul 1 Desember 2026.

Dengan skema dua tahap, dampak penuh ke likuiditas perbankan baru terasa pada akhir tahun. Bank masih memiliki ruang satu bulan sebelum tahap pertama efektif untuk menyesuaikan posisi likuiditas dan portofolio surat berharga.

Mengapa Bank Besar Hanya Dapat Setengah

Selisih manfaat muncul dari mekanisme KLM. Insentif ini memberi pengurangan GWM bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas dan memenuhi kriteria tertentu.

Ketika plafon insentif dipangkas, bank yang sebelumnya menikmati pengurangan besar kehilangan sebagian keunggulan itu. Kelompok bank besar umumnya paling agresif memanfaatkan insentif, sehingga efek bersih pemangkasan GWM bagi mereka menyusut jadi sekitar 1 poin persentase.

  • GWM bank konvensional: 9 persen menjadi 7 persen
  • GWM BUS dan UUS: 7,5 persen menjadi 5,5 persen
  • Efek bersih bank besar: sekitar 1 poin persentase
  • Jadwal: 1 November 2026 dan 1 Desember 2026

Apa Artinya bagi Investor Perbankan

Tambahan likuiditas biasanya menjadi katalis bagi ekspansi kredit dan penurunan biaya dana. Bagi bank besar, ruang ekspansi tetap ada, tetapi tidak sebesar yang tersirat dari angka headline pemangkasan 2 poin persentase.

Nurkholis menyampaikan penilaian itu lewat riset resmi sekuritas, bukan pernyataan lisan. Artinya, angka efek 1 persen merupakan estimasi analis yang perlu dikonfirmasi dengan realisasi likuiditas kuartal IV 2026.

Investor sebaiknya mencermati rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) dan pertumbuhan kredit masing-masing bank pada laporan keuangan berikutnya. Bank dengan LDR tinggi dan porsi kredit sektor prioritas besar akan paling terasa dampaknya, baik saat menikmati insentif maupun ketika plafonnya dipangkas.

Dari sisi makro, langkah BI ini sejalan dengan upaya menjaga likuiditas perbankan tanpa mengorbankan stabilitas kurs. Pemangkasan GWM menambah uang beredar, sehingga bank sentral perlu menyeimbangkannya dengan operasi moneter agar tekanan terhadap rupiah tidak melebar.

Follow halopalembang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: idxchannel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks