PALEMBANG — Yana (51), pedagang pempek yang belasan tahun berjualan di kantin kampus UIN Raden Fatah Palembang, merasakan langsung tekanan kabut asap terhadap pendapatannya. Jika biasanya ia mengantongi sekitar Rp1 juta sehari, kini pemasukan itu sering tidak cukup menutup modal belanja harian.
Penyebabnya bukan sekadar penglihatan yang terganggu asap. Kantin yang biasa riuh suara mahasiswa berubah sunyi sejak kampus memberlakukan kuliah daring akibat buruknya kualitas udara.
"Dapur saya memang masih mengepul setiap hari, tapi hati saya sudah lama tidak mengepul," ujar Yana.
Kuliah Daring Hampir Sebulan, Kantin Kampus Kehilangan Pembeli
Sudah hampir satu bulan mahasiswa tidak terlihat di area kampus UIN Raden Fatah. Kebijakan kuliah online yang diambil pihak kampus untuk melindungi mahasiswa dari paparan asap justru memutus sumber penghidupan pedagang kantin.
"Mahasiswa belajar daring sudah hampir satu bulan," keluh Yana.
Bagi pedagang seperti Yana, kantin kampus adalah napas utama keluarga. Hilangnya aktivitas mahasiswa berarti hilangnya pembeli tetap yang selama ini menopang usaha mereka.
BNPB Tetapkan Sumsel Prioritas, Semai 800 Kilogram Es Kering
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan lima provinsi prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan. Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi melaporkan hal itu kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
BNPB tengah memperbaiki metode pemantauan karhutla menggunakan teknologi citra satelit agar lebih akurat. Meski terjadi peningkatan titik api di Sumatera Selatan dan Jambi, BNPB mengklaim kenaikannya belum terlalu signifikan.
Sebagai langkah konkret, pemerintah melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemai es kering untuk memicu hujan buatan. Di Sumatera Selatan, sebanyak 800 kilogram es kering telah disemai melalui penerbangan khusus.
Jarak Pandang Palembang Naik dari 700 Meter Jadi 7.000 Meter
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Kristomei melaporkan adanya penurunan kadar polusi udara (particulate matter) dan peningkatan jarak pandang di Palembang, dari semula hanya 700 meter kini meningkat hingga 7.000 meter.
Perbaikan kualitas udara belum otomatis memulihkan denyut ekonomi warga kecil. Pedagang kantin masih menunggu keputusan kampus soal kembalinya perkuliahan tatap muka.
Harapan terbesar Yana sederhana: keramaian kampus kembali seperti sedia kala, agar dapur dan hatinya bisa kembali mengepul.