Kebakaran hutan dan lahan melanda dua desa di Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, dengan luas lahan terbakar mencapai 1,5 hektare. Tim gabungan dari BPBD OKU, TNI, Polri, dan relawan berhasil memadamkan api yang terpantau sejak Rabu (2/9) malam.
BATURAJA — Dua desa di Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, dilanda kebakaran hutan dan lahan hampir bersamaan. Lahan mineral seluas 1,5 hektare terbakar di Desa Air Paoh dan Desa Tanjung Baru, dan api berhasil dijinakkan tim satgas gabungan pada Kamis pagi.
Terpantau Lewat Aplikasi SiPongi
Kebakaran tersebut terpantau melalui aplikasi SiPongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Rabu (2/9) malam pukul 21.00 WIB. Kepala BPBD OKU Januar Efendi mengatakan waktu kejadian di kedua desa hampir bersamaan.
"Waktu kejadian karhutla hampir bersamaan dengan lahan mineral yang terbakar di dua desa tersebut sekitar 1,5 hektare," katanya saat dihubungi dari Palembang, Kamis.
Personel Gabungan dan 3 Mobil Tangki Air Dikerahkan
Menindaklanjuti laporan itu, BPBD OKU menerjunkan personel gabungan untuk mencegah api menyebar ke permukiman warga. Tim yang terlibat berasal dari BPBD OKU, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, perangkat desa, serta masyarakat sekitar.
Pemadaman dilakukan menggunakan tiga unit mobil tangki air dan peralatan pendukung lainnya. Petugas bekerja sejak malam hingga pagi agar kobaran api tidak meluas ke area yang lebih luas.
Api Padam Total, Pendinginan Masih Berlangsung
Januar memastikan api telah padam total sejak pagi tadi. Namun, petugas masih berada di lokasi untuk melakukan pendinginan guna mengantisipasi munculnya kembali titik api.
"Sejak pagi tadi api sudah padam total. Saat ini petugas masih di lapangan untuk melakukan pendinginan guna mengantisipasi munculnya kembali titik api yang dapat memicu karhutla," ujarnya.
BPBD Ingatkan Larangan Membuka Lahan dengan Cara Dibakar
Dalam kesempatan itu, BPBD OKU kembali mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan pertanian dengan cara dibakar. Karhutla berpotensi memicu kabut asap yang mengganggu aktivitas warga dan lingkungan sekitar.
"Kami terus memberikan sosialisasi dan imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar agar Kabupaten OKU benar-benar bebas dari karhutla," tegas Januar Efendi.