Harga Sawit Sumsel Turun Tipis di Tengah Penguatan Dolar AS, Indeks K Petani Justru Naik

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 11:16:43 WIB
Harga TBS sawit usia 22 tahun di Sumsel turun tipis menjadi Rp3.868,17 per kg pada Mei 2026.

PALEMBANG — Dinas Perkebunan Sumatera Selatan menetapkan harga TBS tertinggi untuk usia tanam 22 tahun sebesar Rp3.868,17 per kilogram (kg) pada periode II Mei 2026. Angka ini turun tipis dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai Rp3.905,44 per kg. Penurunan serupa juga terjadi pada kelompok usia produktif 10 hingga 20 tahun, dari Rp3.898,14 per kg menjadi Rp3.864,31 per kg.

Mengapa Harga Turun Saat Dolar Menguat?

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, M Ichwansyah, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS tidak otomatis mendongkrak harga TBS di tingkat petani. “Secara sederhana memang dolar memengaruhi harga TBS, tapi bukan satu-satunya faktor. Saat ini harga acuan CPO dunia di Bursa Malaysia dan Rotterdam sedang turun,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Tekanan tambahan datang dari melemahnya permintaan ekspor dari negara tujuan utama seperti Tiongkok dan Eropa. Beberapa negara disebut mulai beralih ke minyak nabati alternatif yang lebih murah, seperti minyak kedelai. Kondisi ini membuat harga CPO global terus tertekan meskipun dolar AS menguat.

Indeks K Petani Naik, Tanda Daya Tahan Membaik

Meski harga jual turun, Ichwansyah menilai kondisi petani sawit di Sumsel masih cukup baik. Indeks K—yang mengukur porsi harga yang diterima petani—kini berada di angka 93,29 persen, naik dibandingkan periode sebelumnya yang sekitar 92 persen. “Yang paling penting untuk sawit sebenarnya indeks K. Sekarang sudah 93 persen, artinya porsi harga yang diterima petani meningkat walaupun harga TBS turun tipis,” jelasnya.

Kenaikan indeks K ini menunjukkan bahwa meskipun harga acuan turun, rantai distribusi dan margin pengolahan di tingkat petani relatif lebih efisien. Ini menjadi sinyal positif di tengah gejolak harga komoditas global.

Stok CPO Menumpuk di Pelabuhan Ekspor

Selain faktor permintaan global, penumpukan stok CPO di tangki timbun pelabuhan ekspor turut menjadi penyebab harga belum kembali menguat. Kondisi ini menciptakan tekanan jangka pendek yang membuat harga TBS sulit bergerak naik signifikan.

Dalam penetapan periode II Mei 2026, harga rata-rata CPO tercatat sebesar Rp15.058,72 per kg, sementara harga inti sawit atau kernel berada di angka Rp14.619,74 per kg. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau pergerakan pasar global untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut terhadap petani sawit di Sumsel.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: sumsel.akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top