PALEMBANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat sebanyak 515 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayahnya sepanjang 1-20 Juni 2026. Meski angka ini tidak mengalami lonjakan signifikan dibandingkan akhir Mei lalu, sejumlah daerah seperti Muara Enim dan Lahat masih menjadi wilayah dengan konsentrasi titik api tertinggi.
Data dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) menunjukkan jumlah hotspot harian tertinggi pada bulan ini terjadi pada 4 Juni dengan 57 titik, disusul 6 Juni sebanyak 55 titik. Sebaliknya, titik terendah tercatat pada 15 Juni yang hanya terdeteksi 2 titik, dan 19 Juni sebanyak 3 titik.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan kondisi ini berbeda dibandingkan akhir Mei lalu, ketika jumlah hotspot sempat menembus ratusan titik dalam sehari. "Hotspot harian pada Juni ini tidak mengalami lonjakan signifikan dibandingkan akhir Mei lalu. Hal itu karena beberapa daerah masih terjadi hujan, khususnya dalam beberapa hari terakhir ini," ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Sepanjang bulan ini, distribusi hotspot terkonsentrasi di beberapa kabupaten. Muara Enim menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, mencapai 130 titik. Disusul Lahat dengan 80 titik, Musi Banyuasin 52 titik, Ogan Komering Ilir (OKI) 47 titik, Muratara 38 titik, dan Musi Rawas 35 titik. Hanya Kota Palembang yang nihil titik panas pada periode yang sama.
Meski belum terjadi lonjakan dramatis, Sudirman mengingatkan agar kewaspadaan tidak kendur. "Sepanjang 1-20 Juni, hotspot yang terdeteksi sebanyak 515 titik. Meski begitu, kita tetap mewaspadai karena secara harian angkanya cukup besar," katanya.
Peningkatan jumlah hotspot pada Mei lalu—yang mencapai 708 titik, tertinggi secara bulanan sejak 2015—dipicu oleh berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara. Kondisi ini terjadi seiring masuknya musim kemarau di sebagian besar wilayah Sumsel, membuat vegetasi menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
Puncak kemarau 2026 diprediksi akan terjadi pada Agustus hingga September, bergeser dari perkiraan awal Juli-Agustus. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Nino di Sumsel baru terbentuk pada Juni ini, yang berpotensi memperparah kondisi kekeringan.
Menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengancam, BPBD Sumsel terus melakukan pengawasan darat maupun udara. Setiap titik panas yang terdeteksi harus segera diverifikasi dan ditangani sejak dini.
Sudirman mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. "Kita tetap mewaspadai karena secara harian angkanya cukup besar," tegasnya. Imbauan ini menjadi krusial mengingat puncak kemarau yang masih akan datang dalam dua hingga tiga bulan ke depan.