PALEMBANG — Curah hujan rendah yang mendominasi Sumsel dalam sepekan ke depan berpotensi memicu bertambahnya jumlah titik panas (hotspot). Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menyatakan bahwa kondisi ini perlu diwaspadai mengingat risiko kebakaran lahan dan hutan yang kerap muncul pada musim kemarau.
Berdasarkan analisis BMKG, sebagian besar wilayah Sumsel masih berada dalam kategori curah hujan rendah. “Kondisi ini bakal memicu potensi meningkatnya jumlah titik panas (hotspot),” kata Siswanto dalam keterangan resmi, Sabtu (25/6/2026).
Meski begitu, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tetap diprakirakan terjadi secara lokal di beberapa daerah. Hal ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang cukup kompleks.
Pada periode 26-28 Juli 2026, hujan ringan diprakirakan berpeluang terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara, Musi Rawas, Muara Enim, Empat Lawang, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Kota Pagar Alam.
Memasuki periode 29-31 Juli 2026, potensi hujan ringan hingga sedang diperkirakan bergeser ke Kabupaten Musi Banyuasin, Muara Enim, Lahat, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Banyuasin, OKI, OKU, Ogan Ilir, OKU Timur, OKU Selatan, dan Kota Prabumulih.
BMKG menjelaskan, kondisi cuaca di Sumsel dalam sepekan ke depan dipengaruhi oleh dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia. Selain itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial serta keberadaan Gelombang Ekuatorial Rossby di wilayah Sumatera turut mendukung terbentuknya awan hujan.
“Kondisi tersebut mendukung terbentuknya hujan berintensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah,” ujar Siswanto.
Pihak BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi. Kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca mendadak maupun bencana hidrometeorologi seperti banjir lokal dan tanah longsor perlu ditingkatkan, terutama di daerah yang masuk dalam daftar wilayah berpotensi hujan.
Sementara itu, bagi daerah yang minim hujan, risiko hotspot dan kebakaran lahan perlu diantisipasi, terutama di kawasan gambut dan lahan pertanian kering.