PALEMBANG — Musda XI DPD Partai Golkar Sumatera Selatan pada 1-2 Agustus 2026 di Hotel Aryaduta Palembang bukan sekadar acara seremonial pergantian kepemimpinan. Pertarungan internal ini menjadi penentu arah strategis partai menghadapi Pemilu dan Pilkada 2029, di mana kemenangan tidak ditentukan oleh popularitas di ruang publik, melainkan kemampuan membangun konsolidasi dan kepercayaan dari 23 pemilik hak suara.
Bursa calon ketua DPD Golkar Sumsel diramaikan oleh delapan nama dengan latar belakang beragam, mulai dari pimpinan legislatif, kepala daerah, hingga anggota DPR RI. Masing-masing membawa modal politik yang berbeda dan akan diuji di hadapan pemilik suara.
Ketua Steering Committee (SC) Musda XI DPD Partai Golkar Sumsel, RA Anita Noeringhati, menegaskan seluruh bakal calon wajib memenuhi persyaratan yang diatur dalam juklak dan juknis. Syarat utamanya adalah terbukti sebagai kader Partai Golkar minimal lima tahun, memiliki dedikasi, loyalitas, tidak tercela, serta wajib memperoleh dukungan minimal 30 persen dari pemilik suara sah dalam Musda.
"Setiap calon harus memiliki visi, program kerja serta kapasitas untuk membawa Partai Golkar Sumsel menjadi organisasi politik yang semakin kuat. Rekam jejak dan kelayakan calon juga akan menjadi perhatian dalam proses Musda," kata Anita.
Harapan pengurus daerah menjadi sorotan utama. Ketua DPD Golkar OKI Bakri Tarmos menyatakan pihaknya belum menentukan pilihan dan menekankan pentingnya integritas kandidat.
"Yang pasti rekam jejaknya harus baik. Rekam jejak tidak bisa dimanipulasi karena tercatat, baik di media maupun dalam catatan organisasi," ujarnya.
Senada, Ketua DPD Golkar Pagar Alam Efsi Komar berharap ketua baru mampu menjadi pengayom seluruh kader dan memberi perhatian pada organisasi sayap. Sementara Ketua DPD II Golkar Banyuasin Irian Setiawan menilai kemampuan merangkul semua kader adalah syarat utama agar partai kompak dan berdampak positif pada kinerja.