SUMATERA SELATAN — Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo kini bertumpu pada serangan udara. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyatakan tiga unit helikopter dikerahkan untuk menjinakkan titik-titik api yang masih menyala di area P30, wilayah Dingklik, Kabupaten Pasuruan.
"Proses pemadaman terus dilakukan dengan menggunakan tiga helikopter, satu drone, delapan pemadam kebakaran dan tim yang terlibat ada Damkar Kota Surabaya, BPBD Mojokerto, BPBD Pasuruan, BPBD Probolinggo, BPBD Lumajang, BPBD Malang, dan BPBD provinsi," ujar Gatot saat dikonfirmasi.
Dua dari tiga helikopter tersebut merupakan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara satu unit lainnya berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Tim gabungan darat yang melibatkan TNI, Polri, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), serta relawan tetap bersinergi melakukan pemadaman manual di titik-titik yang sulit dijangkau.
"Kondisi saat ini api yang berada di P30 telah merembet hingga mengarah ke permukiman warga serta api yang berada di lembah Dingklik terlihat cukup besar," kata Satriyo dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/8) pagi.
Vegetasi yang terbakar meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar. Meski api mendekati area pemukiman, Satriyo memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Menyusul meluasnya area terdampak, TNBTS mengambil langkah tegas dengan menutup sementara seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo mulai Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB.
"TNBTS menutup sementara seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo mulai Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan," ucap Gatot.
"Saat ini water bombing lebih fokus pada area P30 daerah Dingklik di wilayah Pasuruan serta daerah-daerah yang masih punya potensi titik api dengan dilihat dari adanya kepulan asap yang timbul," jelas Gatot.
Penutupan akses wisata dilakukan untuk keselamatan pengunjung sekaligus mempermudah pergerakan armada pemadam. Belum ada kepastian kapan kawasan wisata ikonik Jawa Timur ini akan dibuka kembali, mengingat proses pemadaman masih bergantung pada kondisi angin dan medan yang sulit dijangkau.