Pemprov Sumsel Salurkan Bantuan Mesin Kapal hingga Cool Box ke Nelayan, Gubernur Sebut Angka Kemiskinan Turun ke 9,50 Persen

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:19:32 WIB
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyerahkan bantuan mesin kapal, perahu, cool box, dan mesin pencetak pakan kepada nelayan di Palembang, Rabu (26/8).

PALEMBANG — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru memastikan pemerintahannya tidak berhenti mendorong produktivitas sektor kelautan dan perikanan meskipun kondisi keuangan daerah sedang tidak longgar. Hal itu diwujudkan lewat penyerahan bantuan sarana produksi yang dipusatkan di halaman Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumsel, Rabu (26/8) pagi.

Adapun bantuan yang disalurkan untuk Tahun Anggaran 2026 berupa mesin kapal, perahu, cool box, dan mesin pencetak pakan (pellet). Bantuan ini menyasar nelayan, pembudidaya ikan, pengolah ikan, dan masyarakat pesisir.

Stimulus di Tengah Keterbatasan Fiskal Daerah

Herman Deru mengakui bantuan yang diberikan belum mampu menutup seluruh kebutuhan pelaku usaha di sektor tersebut. Namun, ia menilai sarana produksi ini tetap penting sebagai stimulus agar masyarakat semakin giat mengembangkan usahanya.

“Ini semata-mata sebagai perhatian bagaimana pemerintah provinsi, di tengah ketidakmewahan keuangan pada saat ini, masih tetap memberikan dorongan,” ujarnya di Palembang.

Menurut Herman, dukungan terhadap sarana produksi adalah prasyarat agar aktivitas perikanan berjalan efektif dan memberi dampak ekonomi yang lebih luas. Ia menyebut profesi nelayan bukan sekadar mata pencaharian, melainkan garda depan pemenuhan protein masyarakat.

Kontribusi terhadap Penurunan Kemiskinan dan Stunting

Herman Deru mengaitkan penguatan sektor kelautan dengan capaian pembangunan lain di Sumsel. Berdasarkan data yang disampaikannya, angka kemiskinan provinsi ini kini berada di level 9,50 persen atau satu digit.

“Apakah kita puas di zona nyaman? Pasti tidak. Inilah tugas kita, saya dan Bapak Ibu sekalian, apa pun urusan teknis yang diampu tentu harus punya dorongan terhadap percepatan penurunan kemiskinan dan naiknya kesejahteraan,” tegasnya.

Ia juga menyinggung upaya penekanan angka stunting yang membutuhkan asupan protein hewani dari hasil perikanan. Menurutnya, capaian pembangunan yang ada merupakan kerja kolektif seluruh kabupaten dan kota, bukan satu sektor tunggal.

Penghargaan Satyalancana Wira Karya dan Modal Besar Sumsel

Sumsel sebelumnya menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia di bidang kelautan, perikanan, dan kelestarian alam, khususnya pengembangan mangrove. Herman menegaskan penghargaan itu buah dari kolaborasi semua elemen, termasuk wilayah pesisir.

“Ini adalah hasil kerja komprehensif, tidak hanya satu bidang saja. Ini kerja kita semua, tidak hanya satu wilayah saja, tapi seluruh kabupaten/kota, termasuk pesisir pantai,” katanya.

Ia mengingatkan Sumsel memiliki modal besar untuk terus tumbuh, mulai dari garis pantai sekitar 570 kilometer, sumber daya mineral, gas, batu bara, hingga potensi perkebunan dan pertanian. Karena itu, program pembangunan harus dijalankan secara terpadu, tidak sektoral.

Data Statistik Jadi Parameter Kebijakan

Herman Deru menekankan pentingnya penggunaan data statistik dalam merancang dan mengevaluasi kebijakan. Ia meminta jajarannya tidak bekerja berdasarkan asumsi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Pemerintahan ini adalah pemerintahan yang merajut dari semua potensi, semua kekuatan ekonomi agar dapat didistribusikan kepada masyarakat dengan parameter data statistik, bukan parameter karangan yang muncul di layar-layar handphone,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, ia mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran hutan sebagai bentuk kontribusi sederhana terhadap pembangunan. Herman berharap kolaborasi ini terus tumbuh sehingga sektor kelautan dan perikanan menjadi penggerak ekonomi Sumsel yang berkelanjutan.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: extranews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top