PALEMBANG — Ribuan umat Muslim memadati halaman Griya Agung, Palembang, untuk mengikuti salat Istisqa yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, Selasa (25/8/2026) pagi. Kegiatan ini menjadi simbol ikhtiar batin pemerintah daerah di tengah ancaman kekeringan dan kabut asap akibat karhutla yang melanda sejumlah titik di provinsi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru menegaskan bahwa penanganan kemarau panjang tidak bisa hanya mengandalkan langkah teknis di lapangan. Menurutnya, upaya pencegahan kebakaran harus berjalan beriringan dengan kebersamaan dan keteguhan spiritual masyarakat.
“Setelah berbagai ikhtiar kita lakukan, sekarang kita bersama-sama memohon pertolongan Allah agar diberikan kekuatan dan segera mendapatkan hujan,” ujar Herman Deru di hadapan jamaah.
Luas Karhutla Susut Drastis dari 1.950 Hektare menjadi 199 Hektare
Herman Deru mengungkapkan, sejak Januari 2026 tercatat sekitar 1.950 hektare lahan di Sumsel terpapar kebakaran. Namun, berdasarkan laporan terbaru secara real-time, luas lahan yang masih terdampak kini berada di kisaran 199 hektare.
“Kemarin laporan real-time masih sekitar 199 hektare. Mudah-mudahan hari ini terus berkurang. Ini merupakan hasil dari upaya yang kita lakukan bersama,” katanya.
Ia mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas. Menurutnya, sinergi ini menjadi kunci agar pemadaman dapat dilakukan cepat dan mencegah meluasnya dampak kebakaran.
Kualitas Udara Berangsur Membaik, Hujan Dinanti untuk Kelangsungan Hidup
Gubernur bersyukur kondisi cuaca dan kualitas udara di Sumsel mulai menunjukkan perkembangan positif. Ia berharap hujan segera turun, bukan hanya untuk memadamkan titik api, tetapi juga demi kelangsungan hidup masyarakat yang terdampak kekeringan di sejumlah wilayah.
“Bukan hanya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga untuk kelangsungan hidup. Masih ada saudara-saudara kita di beberapa wilayah yang menghadapi kondisi kemarau,” jelasnya.
Di tengah situasi sulit ini, Herman Deru mengingatkan warga untuk tetap menjaga kondusivitas dan hubungan baik antarsesama. Menurutnya, kebersamaan sosial adalah modal penting ketika daerah menghadapi tantangan seperti karhutla.
Imbau Warga Sumsel Bantu Korban Kekeringan di NTT
Dalam kesempatan yang sama, orang nomor satu di Sumsel itu juga menyerukan kepedulian terhadap warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah membutuhkan perhatian. Ia mengajak kelompok masyarakat untuk memberikan bantuan kemanusiaan lintas daerah.
“Saya mengimbau semua kelompok masyarakat agar dapat memberikan perhatian dan bantuan kepada saudara kita di NTT yang sedang membutuhkan perhatian lebih,” tuturnya.
Herman Deru menegaskan, kondisi kemarau dan karhutla tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Ia meminta seluruh pihak lebih mengedepankan kerja bersama dan langkah nyata.
“Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan atau mencaci maki. Yang dibutuhkan adalah kegotongroyongan, usaha dan doa karena kita hidup di udara dan alam yang sama,” tegasnya.
Salat Istisqa Serentak di 17 Kabupaten/Kota
Untuk memperkuat ikhtiar, Herman Deru secara khusus meminta para kepala daerah dan Forkopimda menyelenggarakan salat Istisqa di wilayah masing-masing. Doa yang dilakukan serentak diharapkan menjadi bagian dari upaya kolektif menghadapi kemarau.
“Saya minta bupati, wali kota dan Forkopimda menyelenggarakan salat Istisqa. Mudah-mudahan seluruh ikhtiar dan doa yang kita lakukan dapat berjalan sesuai harapan,” katanya.
Salat Istisqa di Griya Agung dipimpin Dr. H. Abdurahman Ramli, S.Ag., M.Pd.I. Dalam khutbahnya, jamaah diajak melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta meninggalkan sifat iri, dengki, dan sombong.