SUMATERA SELATAN — Tahun 2025 menjadi ujian berat bagi industri pengolahan nikel nasional. Gejolak harga di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE), ditambah pelemahan harga baja tahan karat serta kebijakan tarif AS, membuat banyak pabrik smelter tertekan. Di tengah situasi itu, VDNI yang beroperasi di Sulawesi Tenggara ini justru mengklaim kinerjanya membaik dibandingkan tahun sebelumnya.
Manajemen VDNI menyebut ketahanan tersebut ditopang oleh disiplin operasional, efisiensi proses produksi, dan koordinasi internal yang lebih rapi. Alhasil, perusahaan tetap mencatatkan laba di tengah pasar yang tidak bersahabat sepanjang tahun lalu.
Memasuki paruh kedua 2026, VDNI tidak hanya mengejar volume produksi. Perusahaan memprioritaskan stabilitas pabrik, keandalan fasilitas, dan integrasi antar lini produksi. Targetnya jelas: kinerja produksi tahun ini harus lebih baik dari 2025 dan menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Dukungan teknis datang dari China First Heavy Industries (CFHI), pemegang saham yang ikut mengawal pengembangan organisasi dan operasional. Fokusnya pada pemutakhiran teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), teknologi inti yang dipakai untuk mengolah bijih nikel.
“Dukungan CFHI menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi VDNI, baik melalui peningkatan kapabilitas operasional, pemutakhiran teknologi, maupun optimalisasi teknologi RKEF. Penguatan ini diharapkan dapat meningkatkan keandalan dan efisiensi operasi sekaligus mendukung kemampuan VDNI dalam menghasilkan produk nikel berkualitas untuk memenuhi kebutuhan industri global,” demikian pernyataan manajemen VDNI dalam keterangan resminya, Selasa (3/9).
Transformasi hijau mulai masuk ke lini operasional paling dasar: alat angkut berat. VDNI tengah menguji penggunaan armada berbasis tenaga listrik untuk kegiatan transportasi internal di kawasan industri. Langkah ini dirancang untuk menekan jejak karbon dari aktivitas logistik sekaligus menekan biaya energi jangka panjang.
Inisiatif ini sejalan dengan arah pemerintah mengejar target Net Zero Emission. Bagi VDNI, efisiensi energi bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi juga cara menekan biaya produksi di tengah margin yang kian tipis akibat fluktuasi harga nikel.
Ekspansi operasional tidak berhenti pada urusan mesin dan teknologi. VDNI mengalokasikan perhatian pada program sosial yang menyentuh warga di sekitar wilayah operasional. Beberapa inisiatif yang berjalan antara lain program politeknik untuk putra-putri daerah, pendaftaran pekerja rentan ke BPJS Ketenagakerjaan, serta kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk program pelestarian lingkungan.
Pendekatan ini menjadi semacam jaring pengaman sosial. Ketika industri sedang menghadapi dinamika pasar yang sulit diprediksi, dukungan masyarakat sekitar menjadi faktor yang turut menentukan kelancaran operasional pabrik dalam jangka panjang.
Dengan kombinasi efisiensi produksi, adopsi teknologi rendah karbon, dan penguatan hubungan komunitas, VDNI berharap bisa melewati siklus penurunan harga nikel global tanpa harus mengorbankan rencana ekspansinya.