Pencarian

BMKG: Debu Vulkanik Anak Krakatau Makin Pekat di Jakarta Saat Kemarau

Selasa, 08 September 2026 • 11:33:31 WIB
BMKG: Debu Vulkanik Anak Krakatau Makin Pekat di Jakarta Saat Kemarau
Warga melintas dengan masker di tengah kabut udara Jakarta yang terpantau mengandung campuran debu vulkanik dan polusi perkotaan.

SUMATERA SELATAN — Analisis kualitas udara BMKG pada periode 1-7 September menunjukkan konsentrasi PM2.5 mengalami lonjakan signifikan pada 5 September, terpantau di Lampung dan Jakarta. Data terbaru per Senin (7/9) pagi mencatat konsentrasi PM2.5 di Pesawaran, Lampung mencapai 30,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sementara di Kemayoran, Jakarta berada di angka 25,3 µg/m³.

Lonjakan Partikel Kasar pada 6 September

BMKG mendeteksi peningkatan partikel kasar yang berasal dari material erupsi pada 6 September, sebelum mulai mengalami peluruhan keesokan harinya. Analisis distribusi ukuran partikel menunjukkan perubahan pola yang jelas: partikel kasar mencapai puncak tertinggi mingguan pada rentang diameter 3,86-5,06 µm.

Sebaliknya, sehari sebelumnya aerosol di atmosfer Jakarta masih didominasi partikel halus berdiameter sekitar 0,11-0,25 mikrometer. BMKG menyebut peningkatan partikel halus tersebut mengindikasikan akumulasi emisi polusi lokal atau pembentukan aerosol sekunder yang kuat.

Indikator Intrusi Debu Vulkanik

Untuk melacak masuknya debu vulkanik, BMKG menggunakan parameter Ångström Exponent (AE) yang berkaitan dengan ukuran partikel di udara. Pada pukul 06.00-07.30 WIB, nilai AE terpantau berada di titik terendah dan turun di bawah 1,0, menandakan dominasi partikel kasar dari erupsi.

Memasuki siang hari, nilai AE kembali meningkat karena abu mulai mengendap dan udara kembali bercampur dengan emisi partikel halus dari kendaraan dan industri. Kondisi atmosfer Jakarta sejak awal September secara umum sudah dipenuhi aerosol, terlihat dari tren Aerosol Optical Depth (AOD) harian pada 1-6 September 2026.

Paparan Ganda di Ibu Kota

"Belum turunnya hujan membuat campuran partikel berbahaya ini tertahan dan melayang lebih lama di udara," tulis BMKG dalam unggahan Instagram, Selasa (8/9). Lembaga ini mengingatkan warga Jakarta agar tidak terkecoh dengan kondisi langit berkabut yang kerap dianggap polusi biasa.

"Jangan terkecoh dan melepas masker hanya karena mengira langit yang berkabut itu polusi biasa, padahal kenyataannya itu adalah 'paparan ganda' yang masih bercampur dengan material debu vulkanik," tegas BMKG. Masyarakat, khususnya di Jakarta, diminta tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan karena sisa debu vulkanik masih dapat bercampur dengan polusi perkotaan.

Follow halopalembang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks