PALEMBANG — Kabut asap kiriman dari titik-titik karhutla di sekitar Palembang membuat udara kota bertahan di level berbahaya sejak pagi. Indeks 1.322 di GP PLM jauh melampaui ambang batas aman yang ditetapkan sebagai kategori berbahaya. Warga di lima kecamatan pemantauan diminta membatasi aktivitas luar ruangan.
Kabut asap karhutla membawa partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Partikel berukuran mikro itu bisa menembus saluran napas bagian dalam dan masuk ke aliran darah. Kelompok rentan disebut paling cepat merasakan dampaknya.
Apa Risiko Kesehatan yang Mengintai Warga Palembang?
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr. Then Suyanti, menyebut paparan kabut asap bisa memicu infeksi saluran pernapasan akut hingga memperburuk penyakit paru yang sudah diderita seseorang.
"Risiko kesehatan akibat karhutla ini kita tahu asap ini bisa memicu PM 2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan organik beracun yang bisa memperberat ISPA, PPOK, asma, dan gangguan pernapasan," ujar Then dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Selain saluran napas, asap juga berisiko menimbulkan iritasi mata dan kulit. Anak-anak dan lansia perlu perhatian lebih karena daya tahan tubuh mereka lebih rendah.
Paparan Asap Dikaitkan dengan Risiko Henti Jantung
Dampak kabut asap tidak berhenti di paru-paru. Mengutip informasi American Heart Association (AHA), partikel halus dalam asap kebakaran dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association mencatat paparan asap pekat kebakaran hutan dikaitkan dengan peningkatan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen. Dampak itu dilaporkan pada laki-laki maupun perempuan, terutama kelompok usia 35–64 tahun.
Langkah yang Bisa Dilakukan Warga Saat Asap Pekat
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya saat kabut asap menebal. Gunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, bukan masker kain biasa.
Pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup saat asap masuk ke lingkungan permukiman. Jika tersedia, penyaring udara dalam ruangan bisa membantu menekan paparan polutan.
Warga yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala gangguan kesehatan yang memburuk diminta segera mencari pertolongan medis. Jangan menunda sampai kondisi memburuk, terutama bagi yang punya riwayat asma atau penyakit jantung.