SUMATERA SELATAN — Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menutup Denmark Open 2026 sebagai juara ganda putra setelah mengalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik 21-8, 21-11 di SJF Bank Arena, Minggu (18/10). Kemenangan 31 menit itu jadi pembalasan sekaligus bukti dominasi pasangan Indonesia atas ganda Malaysia di partai puncak.
Final Denmark Open 2026 berlangsung singkat. Fajar/Fikri membuka gim pertama dengan pola menyerang sejak bola pertama, memaksa Aaron/Soh bertahan dan kehilangan inisiatif.
Keunggulan 5-1 cepat berubah jadi 9-1. Interval gim pertama ditutup 11-3, dan Aaron/Soh hanya bisa menambah dua poin sebelum Fajar/Fikri menjauh 19-8 lalu menutup gim dengan 21-8.
Gim Kedua Sempat Tertinggal 0-4, Fajar/Fikri Balik Menguasai
Aaron/Soh mencoba bangkit di awal gim kedua. Pasangan Malaysia itu memimpin 2-0 dan sempat menjauh 4-0, memanfaatkan beberapa kesalahan sendiri dari Fajar/Fikri.
Respons datang cepat. Fajar/Fikri meraih lima poin beruntun untuk berbalik unggul 5-4, lalu menambah jarak jadi 7-4. Interval gim kedua ditutup dengan skor 11-6.
Setelah itu Aaron/Soh tidak lagi menemukan celah. Fajar/Fikri mendikte tempo, unggul 17-9, dan menutup pertandingan 21-11 lewat empat poin terakhir.
Statistik Singkat Final Denmark Open 2026
- Skor akhir: 21-8, 21-11 untuk Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri
- Durasi pertandingan: 31 menit
- Lokasi: SJF Bank Arena
- Lawan: Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia)
- Momen kunci: lima poin beruntun Fajar/Fikri di gim kedua yang mengubah 0-4 jadi 5-4
Kemenangan ini menegaskan kualitas Fajar/Fikri sebagai salah satu ganda putra terdepan Indonesia. Sepanjang final, mereka tidak membiarkan Aaron/Soh mengembangkan pola permainan cepat yang biasa jadi senjata pasangan Malaysia.
Gelar Denmark Open 2026 menjadi modal penting bagi Fajar/Fikri untuk menghadapi rangkaian turnamen BWF berikutnya, termasuk turnamen level lebih tinggi yang menuntut konsistensi performa.
Bagi Aaron/Soh, kekalahan ini jadi catatan evaluasi. Mereka hanya mampu meraih 11 poin di gim kedua setelah sempat memimpin 4-0, menandakan kesulitan menjaga momentum saat lawan menaikkan tekanan.