SUMATERA SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam 678,67 poin atau 11,57% ke level 5.185,1 pada perdagangan Jumat (16/10/2025). Tekanan jual asing yang mencapai Rp3,4 triliun dalam sehari membuat BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam tren bearish dengan support berikutnya di 5.100 dan 4.954.
Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut IHSG mengalami breakdown tajam dari pola Head and Shoulders setelah gagal bertahan di atas neckline psikologis 6.000. Indikator MACD menunjukkan momentum bearish yang menguat, dengan garis MACD berada di bawah signal line dan histogram negatif semakin melebar.
“IHSG mengalami breakdown tajam dari pola Head and Shoulders setelah gagal bertahan di atas neckline psikologis 6.000. MACD menunjukkan momentum bearish yang menguat, dengan garis MACD berada di bawah signal line dan histogram negatif semakin melebar,” tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
Jual Bersih Asing Tembus Rp114 Triliun Sepanjang Tahun
Tekanan jual investor asing menjadi pemicu utama pelemahan indeks. Pada perdagangan Jumat (16/10/2025), asing membukukan net sell Rp3,4 triliun. Sepanjang sepuluh bulan perdagangan tahun 2026, akumulasi jual bersih asing sudah menembus Rp114 triliun.
Angka itu menunjukkan arus keluar modal asing belum berbalik arah meski indeks sudah turun jauh dari level 6.000. BRI Danareksa menyoroti support terdekat di 5.100 dan 4.954 sebagai level yang perlu dicermati pelaku pasar.
Level 5.000 dan 4.700 Jadi Fokus Teknikal Berikutnya
Jika support 5.100 dan 4.954 tidak mampu menahan tekanan jual, riset BRI Danareksa memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan bearish trend menuju area 5.000 dan 4.700. Level psikologis 5.000 menjadi garis pertahanan penting karena berdekatan dengan support teknikal yang disebut dalam riset.
Pelemahan 11,57% dalam satu hari merupakan koreksi harian yang sangat dalam. Sebagai perbandingan, penurunan sebesar itu dalam sehari setara dengan hilangnya kapitalisasi pasar yang signifikan di seluruh konstituen indeks.
Pola Head and Shoulders dan Sinyal MACD
Pola Head and Shoulders yang disebut dalam riset merupakan formasi pembalikan arah yang terbentuk dari tiga puncak, dengan puncak tengah paling tinggi. Kegagalan bertahan di atas neckline 6.000 menjadi konfirmasi pola tersebut.
Indikator MACD yang berada di bawah signal line dengan histogram negatif melebar memperkuat sinyal bearish. Dalam analisis teknikal, kondisi itu biasanya menandakan tekanan jual masih dominan dan belum ada tanda pembalikan arah dalam waktu dekat.
Apa Artinya bagi Investor
Bagi pemegang saham, support 5.100 dan 4.954 menjadi level acuan untuk menilai apakah koreksi berhenti atau berlanjut. Riset BRI Danareksa tidak menyebut target harga saham spesifik, hanya level indeks yang perlu dipantau.
Arus net sell asing yang sudah mencapai Rp114 triliun sepanjang tahun menjadi sinyal bahwa sentimen global masih menekan pasar domestik. Investor perlu mencermati apakah ada katalis baru yang bisa membalik arus modal asing sebelum mengambil posisi.