SUMATERA SELATAN — Laga final playoff di Kras Stadion, Volendam, Minggu (19/5) malam WIB, berjalan alot sejak menit awal. Ajax unggul lebih dulu lewat gol Davy Klaassen, tapi Utrecht menyamakan kedudukan melalui aksi Gjivai Zechiël. Skor 1-1 bertahan hingga 120 menit, memaksa pemenang ditentukan lewat drama adu penalti.
Empat eksekutor Ajax sukses menjalankan tugasnya. Namun sorotan utama tertuju pada Paes yang menggagalkan tendangan dua pemain bintang Utrecht: penyerang berpengalaman Sébastien Haller dan Souffian El Karouani. Kegemilangan kiper berusia 34 tahun itu menjadi faktor penentu kemenangan Ajax.
"Jujur saja, saya tidak tahu dia bisa melakukan hal luar biasa ini sebelumnya, tapi sekarang saya sudah menyaksikannya sendiri. Dia adalah sosok penjaga gawang yang sangat lincah dan memiliki kualitas yang sangat bagus," ujar Oscar Garcia kepada Voetbal Primeur.
Garcia mengakui timnya tidak memiliki persiapan khusus untuk skenario adu penalti. Pelatih asal Spanyol itu secara pribadi kurang percaya pada efektivitas sesi latihan tendangan penalti karena atmosfer lapangan latihan sangat berbeda dengan tekanan mental pertandingan sesungguhnya.
Para pemain Ajax justru memiliki inisiatif sendiri berlatih menendang penalti di akhir sesi latihan. Garcia percaya semua pemain profesional bisa mencetak gol, tapi ketenangan dan insting saat laga tetap menjadi faktor utama.
Performa konsisten Paes sepanjang musim juga mendapat pengakuan di Indonesia. Dalam ajang PSSI Awards 2026 yang digelar di Jakarta, Maarten Paes resmi dinobatkan sebagai Penjaga Gawang Terbaik. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dan kontribusinya untuk Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Garcia sendiri berharap timnya bisa menyelesaikan laga lebih cepat tanpa drama adu penalti. Meski demikian, ia bersyukur Ajax akhirnya mencapai target utama lolos ke kompetisi Eropa musim depan.