Harga Ayam dan Telur Naik, Menteri Amran Minta Dapur MBG Beli Langsung ke Peternak

Penulis: Rizky Firmansyah  •  Senin, 27 Juli 2026 | 13:19:32 WIB
Menteri Pertanian Amran meminta dapur MBG membeli ayam dan telur langsung dari peternak untuk memotong rantai pasok yang memicu kenaikan harga.

SUMATERA SELATAN — Lonjakan harga ayam dan telur yang terjadi dalam sepekan terakhir mendorong pemerintah bertindak cepat. Kenaikan ini dipicu oleh dimulainya kembali aktivitas sekolah dan meningkatnya permintaan dari program MBG yang berperan sebagai penyerap utama hasil produksi peternak.

Potong Rantai Pasok, Harga Dijaga di Rp 25.000 per Kilogram

Amran memastikan harga pembelian ayam dan telur akan dikontrol agar tidak jatuh di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Untuk ayam, harga acuan dipatok di kisaran Rp 25.000 hingga Rp 26.000 per kilogram, sementara telur ayam ditetapkan sebesar Rp 26.500 per kilogram.

"Nanti dikontrol harganya, tidak boleh di bawah harga pembelian pemerintah," ujar Amran di kantornya, Senin (17/7).

Menurut Amran, mekanisme pengendalian ini telah disepakati bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Pemerintah menilai, keterlibatan Satgas Pangan dalam pengawasan rantai pasok tidak diperlukan karena pengendalian cukup dilakukan oleh BGN dan SPPG di lapangan.

Ada Pihak yang Bermain di Rantai Pasok

Amran mengungkapkan bahwa praktik pengambilan keuntungan oleh pihak tertentu dalam rantai pasok ayam dan telur untuk MBG menjadi penyebab utama gejolak harga. Ia menegaskan praktik semacam itu harus segera dibenahi.

"Ada orang tertentu mengambil keuntungan. Nah, ini harus yang dibereskan," kata Amran.

Oleh karena itu, ia meminta SPPG atau dapur MBG untuk, bila memungkinkan, mengambil pasokan langsung dari peternak. Langkah ini diyakini mampu menekan margin spekulatif di tingkat distributor dan menjaga harga tetap stabil bagi peternak maupun konsumen.

MBG sebagai Penyerap Produksi Peternak

Amran menegaskan bahwa program MBG bukan hanya program pemenuhan gizi, tetapi juga berfungsi sebagai off-taker atau penyerap hasil produksi pertanian dan peternakan. Dengan kapasitas serap yang besar, MBG diharapkan menjadi jaring pengaman bagi 160 juta petani, peternak, dan pekebun di Indonesia.

"MBG adalah off-taker untuk produksi-produksi pertanian. Dari 160 juta petani, peternak, pekebun yang menjadi off-taker mereka," jelas Amran.

Pemerintah berharap mekanisme pasokan langsung ini bisa mencegah pengulangan lonjakan harga di masa mendatang, sekaligus memastikan keberlanjutan program MBG tanpa membebani anggaran negara. Jika rantai pasok bersih dari spekulasi, harga ayam dan telur di tingkat peternak maupun konsumen bisa sama-sama terjaga.

Reporter: Rizky Firmansyah
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top