PALEMBANG - Sejarah mencatat Sultan Mahmud Badaruddin II memimpin Kesultanan Palembang Darussalam selama hampir dua dekade, tepatnya mulai 12 April 1804 hingga Belanda berhasil mengasingkannya pada 1 Juli 1821. Nama aslinya adalah Raden Muhammad Hasan Pangeran Ratu, yang kisah perjuangannya melawan kolonialisme menjadi dasar penetapannya sebagai Pahlawan Nasional.
Selain Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatan juga memiliki figur Mayjen TNI dr. Adnan Kapau Gani. Meski lahir di Bukittinggi, perjalanan hidup dan perjuangannya sangat erat dengan Palembang. Pahlawan Nasional kelahiran 16 September 1905 ini dikenal sebagai dokter, politikus, pejuang, dan tokoh militer yang berperan penting dalam mempertahankan Republik di Sumatera Selatan.
Sultan Mahmud Badaruddin II berada di tengah perebutan pengaruh politik dan ekonomi antara Kesultanan Palembang, Inggris, Belanda, serta kekuatan lokal. Penelitian sejarah mencatat kemenangan pasukannya pada 1819 memanfaatkan kondisi geografis Palembang yang memiliki rawa, hutan, dataran tinggi, dan jaringan sungai.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mendokumentasikan bahwa pengasingan Sultan ke Ternate menjadi indikasi kuat pemerintah kolonial menganggapnya sebagai figur berbahaya. Dokumen dari repositori pemerintah menegaskan pengasingan menjadi bagian penting narasi kepahlawanannya.
A.K. Gani memulai pengabdiannya sebagai dokter, kemudian mengembangkan kiprah ke sektor politik, pemerintahan, hingga militer. RRI menyebut perannya penting dalam perjuangan di Sumatera Selatan, dan penyebutannya perlu disertai keterangan asal kelahirannya untuk menghindari kekeliruan.
Yang menarik dari perjuangan A.K. Gani adalah medan pengabdiannya yang luas, mencakup keahlian profesional, organisasi, diplomasi, hingga pengambilan keputusan, bukan semata pertempuran bersenjata.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mencatat keberadaan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di pusat sejarah Palembang, relevan untuk memahami kesultanan sebelum menelusuri Benteng Kuto Besak dan Sungai Musi. Pemerintah Kota Palembang menetapkannya sebagai cagar budaya kota.
Museum Pahlawan Nasional A.K. Gani menyimpan koleksi arsip yang menghubungkan kisah personal tokoh dengan sejarah nasional. Museum ini juga ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Kota Palembang pada akhir 2024.
Dari Sultan Mahmud Badaruddin II, nilai keteguhan dan kepemimpinan dalam kondisi rumit menjadi pelajaran utama. Sementara dari A.K. Gani, keluarga mengenang nilai kemandirian dan keberanian mengambil peran lintas bidang sebagai warisan pendidikan.
Pendekatan pengenalan sejarah kepada generasi muda meliputi pembuatan video pendek, jurnal museum, peta digital, hingga diskusi perbedaan tokoh lokal dan Pahlawan Nasional. Palembang menjadi titik penting karena berbagai lapisan sejarah bertemu, dari Kesultanan, kolonial, kemerdekaan, hingga Indonesia modern.