SUMATERA SELATAN — Kami belum sempat menguji secara mendalam Toyota bZ4X Touring di berbagai medan, tetapi dari spesifikasi dan perubahan desain yang dihadirkan, jelas terlihat bahwa Toyota mencoba mengisi celah yang selama ini kosong di pasar SUV listrik Indonesia. Berbeda dari kebanyakan mobil listrik yang fokus pada efisiensi kota, bZ4X Touring hadir dengan karakter yang lebih kompleks—memadukan desain estate khas mobil touring dengan kemampuan ala SUV.
Yang langsung terlihat adalah proporsi bodi yang berubah signifikan. Dengan panjang 4.830 mm, bZ4X Touring lebih panjang dari versi standarnya, sementara wheelbase 2.850 mm dan ground clearance 216 mm membuatnya berdiri tegap layaknya SUV sejati.
Bagian belakang yang memanjang bukan cuma untuk gaya. Ini menambah kapasitas bagasi yang menjadi salah satu keunggulan utama model ini. Toyota juga menyematkan roof rail dengan kapasitas beban hingga 80 kg saat melaju dan 317 kg ketika parkir—angka yang jarang ditawarkan kompetitor sekelasnya.
Performa adalah area di mana bZ4X Touring berbeda dari kebanyakan SUV listrik perkotaan. Dua unit eAxle di depan dan belakang menghasilkan total tenaga sistem 280 kW. Ini bukan angka yang bisa dianggap remeh, terutama untuk sebuah kendaraan yang diklaim bisa diajak keluar jalur aspal.
Untuk mendukung klaim tersebut, Toyota melengkapi model ini dengan fitur off-road yang serius:
Fitur-fitur ini jarang ditemukan di mobil listrik segmen ini, yang biasanya lebih fokus pada efisiensi dan kenyamanan berkendara di jalan raya.
Soal daya jelajah, Toyota mengklaim angka hingga 487 km dalam sekali pengisian penuh. Baterai berkapasitas 74,69 kWh ini mendukung AC charging hingga 22 kW dan DC fast charging hingga 150 kW—spesifikasi yang cukup mumpuni untuk perjalanan antar kota.
Namun, perlu dicatat bahwa angka 487 km adalah klaim pabrikan yang dihitung dalam kondisi ideal. Dengan bobot yang cenderung berat akibat baterai besar dan sistem AWD, konsumsi energi real-world di jalan tol Indonesia kemungkinan besar akan lebih tinggi. Kami menyarankan untuk menunggu hasil uji independen sebelum menyimpulkan efisiensinya.
Kehadiran bZ4X Touring tidak bisa dilepaskan dari strategi besar Toyota yang disebut Multi-pathway. Pendekatan ini menawarkan berbagai teknologi elektrifikasi—dari HEV, PHEV, BEV, hingga FCEV—dengan asumsi bahwa satu jenis kendaraan tidak cocok untuk semua orang.
“Kami berkomitmen untuk terus melengkapi ekosistem mobilitas yang sesuai dengan beragam aktivitas masyarakat Indonesia,” ujar Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Bansar Maduma dalam keterangan resminya.
Bagi konsumen yang belum siap dengan infrastruktur pengisian daya, Toyota masih menawarkan lini HEV yang lebih praktis. bZ4X Touring justru menyasar segmen yang lebih spesifik: mereka yang menginginkan mobil listrik murni tetapi tidak mau mengorbankan kemampuan menjelajah di luar kota.
Setelah menimbang spesifikasi dan positioning-nya, berikut rangkuman kami:
Kelebihan:
Kekurangan:
Toyota bZ4X Touring jelas bukan mobil listrik untuk semua orang. Model ini dirancang untuk konsumen yang melihat kendaraan listrik bukan sekadar alat transportasi kota, tetapi juga teman petualangan. Jika Anda termasuk tipe yang membutuhkan SUV listrik dengan kemampuan off-road sesungguhnya dan tidak terlalu bergantung pada infrastruktur pengisian cepat di dalam kota, bZ4X Touring layak masuk daftar pertimbangan.
Namun, jika kebutuhan Anda lebih banyak di dalam kota dengan prioritas efisiensi biaya, ada banyak pilihan BEV lain dengan harga lebih rendah dan konsumsi energi lebih efisien. bZ4X Touring adalah pernyataan bahwa Toyota serius di segmen BEV—tetapi keseriusan itu datang dengan konsekuensi harga yang harus dibayar.