SUMATERA SELATAN — Tri menekankan ada tiga hal yang harus dipastikan PROMETINDO dalam mendukung pengembangan industri metalurgi. Ketiganya menyangkut teknologi, etika profesi, dan percepatan hilirisasi komoditas mineral kritis.
Poin pertama adalah penguasaan teknologi metalurgi secara mandiri. Tri ingin Indonesia tidak terus bergantung pada lisensi maupun tenaga ahli asing dalam mengolah mineral.
"Kita harus memastikan penguasaan teknologi metalurgi mandiri agar Indonesia tidak terus-menerus tergantung pada lisensi atau tenaga asing," ujar Tri.
Isu ini krusial karena rantai pengolahan mineral nasional selama ini masih banyak bertumpu pada teknologi dan keahlian dari luar. Kemandirian teknologi dinilai menjadi kunci agar nilai tambah benar-benar tinggal di dalam negeri.
Poin kedua menyangkut standar profesionalisme dan etika profesi di kalangan tenaga ahli metalurgi. Tri menegaskan aspek keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan harus berada di posisi tertinggi dalam setiap aktivitas industri.
"Yang kedua adalah penegakan standar profesionalisme dan juga etika profesi yang menempatkan aspek keselamatan kerja serta kelestarian lingkungan sebagai prioritas tertinggi," katanya.
Penegakan standar ini relevan mengingat industri pengolahan mineral berisiko tinggi, baik dari sisi kecelakaan kerja maupun dampak lingkungan di sekitar fasilitas produksi.
Poin ketiga adalah akselerasi hilirisasi secara selektif, khususnya untuk komoditas mineral kritis. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat struktur industri domestik secara menyeluruh dan menaikkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
"Ketiga, akselerasi hilirisasi selektif untuk komoditas mineral kritis guna memperkuat struktur industri domestik secara menyeluruh," jelas Tri.
Pendekatan selektif ini menandakan tidak semua komoditas diperlakukan sama. Mineral kritis yang punya peran strategis bagi industri hilir dan transisi energi menjadi prioritas percepatan.
Tri berharap Kongres Nasional PROMETINDO 2026 tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan organisasi. Ia ingin forum itu menghasilkan gagasan yang berkontribusi konkret terhadap pembangunan industri nasional.
"Melalui Kongres Nasional 2026, saya berharap PROMETINDO dapat melahirkan kepemimpinan baru yang visioner serta rekomendasi strategis yang aplikatif bagi negara," tuturnya.
Menurut Tri, penguatan kapasitas profesi metalurgi punya posisi penting dalam perjalanan transformasi sektor pertambangan Indonesia. Arah pembangunan industri harus bergerak dari kegiatan ekstraksi menuju hilirisasi dan industrialisasi.
"Dari ekstraksi menuju hilirisasi atau industrialisasi, dari komoditas menuju nilai tambah, dan dari kekayaan sumber daya menuju kemajuan Indonesia," pungkas Tri.
Arahan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah menempatkan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi sebagai penentu keberhasilan hilirisasi. Tanpa keduanya, pengolahan mineral dalam negeri berisiko tetap bergantung pada pihak luar meski fasilitas smelter terus bertambah.