Cold Chain Perikanan RI Baru Sentuh 12 Persen Produksi 15 Juta Ton

Penulis: Nasrul Effendi  •  Sabtu, 12 September 2026 | 21:36:01 WIB
Cold chain perikanan nasional baru menjangkau 12 persen dari total produksi 15 juta ton.

SUMATERA SELATAN — Angka itu terungkap dalam diskusi sektor perikanan nasional yang menyoroti lemahnya infrastruktur pendingin di sepanjang jalur distribusi hasil laut. Komoditas perikanan butuh penanganan suhu presisi sejak kapal bersandar hingga tiba di tangan konsumen.

Tanpa itu, rantai nilai perikanan Indonesia kehilangan nilai tambah di setiap simpul. Nelayan menanggung kerugian terbesar karena harga ditentukan pembeli saat kualitas ikan sudah menurun.

Mengapa Kualitas Ikan Menentukan Harga dan Ekspor

Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan hasil laut termasuk komoditas paling mudah rusak. Penanganan suhu yang tepat sejak awal penangkapan menjadi syarat mutlak, bukan pilihan.

"Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita," ujar Rokhmin.

Ia menyoroti tiga dampak berantai: kerugian ekonomi nelayan, risiko kesehatan konsumen, dan melemahnya posisi ekspor Indonesia. Vietnam dan Thailand disebut sebagai pembanding yang lebih agresif membangun infrastruktur rantai dingin.

Dorongan Pendingin Berbasis Energi Surya

Rokhmin mendorong adopsi teknologi pendingin ramah lingkungan berbasis tenaga surya. Pemanfaatan energi matahari dinilai potensial diterapkan bertahap pada armada kapal penangkap ikan, cool box, refrigerator, hingga cold storage.

Tujuannya memutus ketergantungan pada energi fosil di sektor yang operasionalnya berlangsung harian di laut. Pendekatan low carbon dan zero carbon disebut sebagai jalur yang paling realistis untuk jangka menengah.

Syarat TKDN dan Transfer Teknologi

Rokhmin mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar membuka pintu impor teknologi asing. Kerja sama dengan pihak luar negeri wajib menyertakan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta transfer teknologi.

Komisi IV DPR RI memastikan akan mengawal kebijakan ini. Targetnya, industri dalam negeri mampu memproduksi komponen rantai dingin secara mandiri, menciptakan nilai tambah, dan membuka lapangan kerja lokal.

Solusi Cold Storage Portable di RHVAC Indonesia 2026

PT DS Solutions International selaku perwakilan resmi TITAN Containers memamerkan solusi cold storage portable di ajang RHVAC Indonesia 2026. Pameran berlangsung 9–11 September 2026 di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2.

Dua unit unggulan yang dipamerkan menyasar kebutuhan berbeda di rantai pendingin perikanan.

ArcticBlast 20FT

Unit ini dirancang untuk rapid chilling dan blast freezing dengan teknologi mesin ganda. Kemampuannya menurunkan suhu cepat hingga -40°C untuk mempertahankan kesegaran seafood, daging, dan unggas.

ArcticStore Horizon 40FT

Generasi cold storage terbaru ini bekerja pada rentang suhu -30°C hingga +30°C. Unit ini menghemat energi hingga 55 persen dibanding reefer konvensional berkat panel insulasi modern dan refrigeran ramah lingkungan dengan nilai GWP 0,5.

Unit ini juga mendukung integrasi panel surya opsional yang menambah penghematan energi hingga 25 persen lebih lanjut.

Kaitan dengan Kampung Nelayan Merah Putih

Penguatan rantai dingin dan adopsi energi terbarukan diharapkan menjadi fondasi penopang program Kampung Nelayan Merah Putih. Keduanya menyasar akar masalah yang sama: hasil tangkapan yang membusuk sebelum sampai pasar.

Bagi pelaku usaha perikanan dan investor, sinyalnya jelas. Ada ruang pasar besar di segmen pendingin portable, energi surya untuk armada, dan komponen lokal yang belum tergarap optimal.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top