Pencarian

44.088 Warga Surabaya Diperiksa TBC Hingga Mei 2026, Dinkes Gencar Lacak 7.221 Kasus yang Belum Terdeteksi

Sabtu, 13 Juni 2026 • 13:56:32 WIB
44.088 Warga Surabaya Diperiksa TBC Hingga Mei 2026, Dinkes Gencar Lacak 7.221 Kasus yang Belum Terdeteksi
Dinkes Surabaya memeriksa 44.088 warga untuk deteksi TBC hingga Mei 2026.

SURABAYA — Angka ini menunjukkan dua sisi penanggulangan TBC di kota pesisir timur Jawa itu. Di satu sisi, kemampuan deteksi Dinkes Surabaya terus menguat. Di sisi lain, masih ada sekitar 7.221 kasus yang diperkirakan belum teridentifikasi dan bisa menjadi sumber penularan baru di permukiman padat penduduk.

Mengapa Kasus yang Tidak Terdeteksi Lebih Berbahaya?

Dalam epidemiologi, temuan kasus yang meningkat justru menandakan sistem kesehatan bekerja lebih aktif. Ancaman sesungguhnya bukanlah pasien yang sudah dirawat, melainkan mereka yang tidak pernah diperiksa dan terus menularkan bakteri ke lingkungan sekitar. Karakter TBC yang berkembang perlahan—sering dianggap batuk biasa atau kelelahan—membuat banyak penderita baru datang berobat saat kondisinya sudah parah.

Kota dengan mobilitas tinggi seperti Surabaya mempercepat rantai penularan. Kawasan padat hunian, aktivitas ekonomi tanpa jeda, dan interaksi sosial yang intens menjadi lahan subur bagi bakteri apabila kasus tidak segera ditemukan. Karena itu, strategi tracing dan screening aktif yang dijalankan Pemkot Surabaya menjadi kunci untuk memotong transmisi.

89,36 Persen Pasien Sembuh, Tapi Tantangan Kepatuhan Masih Ada

Dari sisi pengobatan, tingkat keberhasilan terapi TBC sensitif obat di Surabaya mencapai 89,36 persen. Namun, penyakit ini membutuhkan disiplin minum obat selama berbulan-bulan. Rasa jenuh, efek samping, hingga tekanan ekonomi kerap membuat pasien putus di tengah jalan. Akibatnya, bakteri bisa menjadi kebal dan memunculkan TBC resistan obat (RO) yang penanganannya lebih rumit, lebih lama, dan lebih mahal.

Data Dinkes mencatat, dari 113 kasus TBC resistan obat yang ditemukan, sebanyak 90 pasien telah menjalani terapi. Angka ini menunjukkan sistem pengobatan berjalan, tetapi masih ada celah yang perlu diperbaiki. Keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh tenaga medis, melainkan juga kerja panjang kader kesehatan, keluarga pasien, dan petugas puskesmas yang memastikan pasien tidak berhenti minum obat.

Teknologi Baru dan Perbaikan Hunian Jadi Senjata Tambahan

Surabaya mulai memanfaatkan teknologi pemeriksaan berbasis saliva atau air liur untuk mempercepat

Bagikan
Sumber: sumsel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks