PALEMBANG — Angka 20,9 persen itu bukan sekadar statistik. Itu artinya, hampir satu dari lima anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran penuh figur ayah. Di Sumatera Selatan, BKKBN mencoba merespons persoalan ini lewat program yang tidak biasa: mengajak para ayah kembali ke sekolah — bukan untuk belajar, tapi untuk mengambil rapor anak.
Program itu bernama Gemar, kependekan dari Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Kepala Perwakilan BKKBN Sumsel, Arios Saplis, mengatakan inisiatif ini bukanlah seremoni belaka. "Melalui Gemar, kami ingin mengingatkan bahwa tugas ayah tidak hanya mencari nafkah. Kehadiran ayah dalam momen penting, termasuk menerima hasil belajar di sekolah, berdampak besar terhadap pembentukan karakter dan kepercayaan diri anak," ujarnya di Palembang, Jumat.
Fatherless: Persoalan yang Dipicu Perceraian hingga Pekerjaan
Fenomena fatherless, menurut Arios, dipicu oleh berbagai faktor. Perceraian, kematian, hingga tuntutan pekerjaan yang membuat jarak fisik antara ayah dan keluarga menjadi penyebab utama. Jika dibiarkan, minimnya kehadiran figur ayah ini berpotensi mengganggu perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak.
Data yang disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN merujuk pada temuan UNICEF tahun 2021. Angka 20,9 persen tersebut menjadi alarm bahwa persoalan ini sudah pada tahap serius dan membutuhkan intervensi lintas sektor.
Mengapa Momen Ambil Rapor Jadi Titik Awal?
Pilihan momen pengambilan rapor sebagai entry point program ini bukan tanpa alasan. Bagi banyak keluarga, hari pembagian rapor adalah salah satu dari sedikit agenda sekolah yang secara formal melibatkan orang tua. Dengan mendorong ayah yang hadir, BKKBN berharap pesan tentang pentingnya peran ayah dalam pendidikan anak bisa tertanam secara alami.
"Kami berharap Gerakan Ayah Mengambil Rapor ini dapat menjadi budaya positif yang diterapkan secara luas, khususnya di Sumatera Selatan, demi mewujudkan generasi emas Indonesia yang tangguh dan berkarakter," kata Arios.
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Tapi Gerakan Simultan
Menurut Arios, Gemar dirancang sebagai gerakan simultan untuk mendongkrak kualitas pengasuhan di dalam keluarga. Program ini tidak berhenti pada ajakan simbolis, tetapi diharapkan memicu perubahan perilaku jangka panjang. Ayah yang terbiasa hadir di momen pengambilan rapor, diharapkan juga lebih terlibat dalam proses belajar anak sehari-hari.
Ke depan, BKKBN Sumsel akan menggencarkan sosialisasi program ini ke sekolah-sekolah dan kelompok orang tua di berbagai kabupaten/kota. Targetnya, gerakan ini tidak hanya populer di Palembang, tetapi juga merata hingga ke pelosok Sumsel.