BATURAJA — Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tidak hanya mengandalkan perluasan lahan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit. Pemerintah daerah kini memilih jalur penguatan kapasitas petani melalui pendidikan intensif berbasis praktik di lapangan.
Sebanyak 91 pekebun dikirim mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan XXI, XXII, dan XXIII yang berlangsung pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026. Program ini merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Produksi Naik Hampir Dua Kali Lipat, tapi Masih Ada Pekerjaan Rumah
Kepala Dinas Pertanian OKU, Joni Saihu, mengungkapkan pertumbuhan sawit di daerahnya tergolong pesat. Luas lahan melonjak dari sekitar 1.000 hektare pada 2022 menjadi 7.000 hektare saat ini.
Produksi ikut terdongkrak signifikan, dari 6.100 ton pada 2024 menjadi 12.120 ton pada 2025. Meski begitu, Joni menilai capaian tersebut belum sebanding dengan potensi lahan yang tersedia.
“Penguatan kapasitas pekebun menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing sawit daerah,” ujarnya.
Bukan Hanya Soal Luas Lahan: Akses Jalan dan Modal Jadi Kendala
Di balik angka pertumbuhan itu, sejumlah persoalan klasik masih membayangi para petani. Akses jalan menuju kebun yang terbatas kerap menghambat distribusi hasil panen, terutama di musim hujan.
Mayoritas pekebun di OKU juga mengelola lahan dalam skala kecil. Keterbatasan modal membuat mereka kesulitan mengadopsi bibit unggul bersertifikat yang menjadi fondasi utama produktivitas kebun.
Pelatihan ini dirancang untuk menjawab persoalan tersebut secara langsung. Peserta dibekali pengetahuan menyeluruh, mulai dari pemilihan benih berkualitas, teknik pembibitan, persiapan lahan, hingga pemeliharaan tanaman dan strategi peningkatan hasil produksi.
Kunci Sukses Budidaya: Lahan, Bibit, dan Ketepatan Pemeliharaan
Perwakilan IPB Training, Prof. Dr. Ir. Suwardi M.Agr, menegaskan keberhasilan budidaya sawit tidak bisa dilepaskan dari tiga faktor utama. Ketiganya adalah kesesuaian lahan, kualitas bibit, serta ketepatan dalam pemeliharaan dan pemupukan.
Metode pelatihan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Para peserta terlibat dalam diskusi interaktif, praktikum, serta kunjungan lapang ke PPK Sembawa untuk melihat langsung praktik terbaik di lapangan.
Materi teknis diberikan secara bertahap, mencakup regulasi budidaya, teknik pembibitan, pengolahan lahan, hingga pengendalian hama dan penyakit. Peserta juga dilatih menggunakan peralatan, melakukan kalibrasi semprot, serta menyusun rencana pemupukan yang sesuai dengan kondisi tanaman dan lahan masing-masing.
Target ke Depan: Petani Mampu Terapkan Ilmu di Kebun Sendiri
Melalui pendekatan komprehensif ini, para pekebun diharapkan tidak hanya memahami teori di atas kertas. Mereka dituntut mampu menerapkannya secara langsung di kebun masing-masing setelah kembali ke OKU.
Dengan perbaikan teknik budidaya, pemerintah daerah optimistis produktivitas sawit OKU akan meningkat secara berkelanjutan, seiring dengan perluasan lahan yang terus berjalan.