PALEMBANG — IDI Wilayah Sumatera Selatan angkat bicara terkait polemik yang menyeret salah satu dokter mitra RS Pusri Palembang. Organisasi profesi itu tidak hanya menyayangkan komentar pedas yang dilontarkan tenaga kesehatan berinisial TDJ di media sosial, tetapi juga menyampaikan permintaan maaf langsung kepada keluarga almarhum Yurizal Tri Chaerawan.
Ketua IDI Sumsel, dokter Abla Ghani, menegaskan bahwa kasus ini menjadi tamparan keras bagi profesi kedokteran. Pihaknya berkomitmen mengawal investigasi yang tengah berjalan dan tidak akan melindungi anggota yang terbukti bersalah.
"Kami menyayangkan adanya komentar tenaga kesehatan yang tidak pantas di media sosial. Tindakan tersebut bertentangan dengan sumpah dan etika profesi yang kami junjung tinggi," kata Abla Ghani dalam keterangan resminya, Jumat (7/8/2026).
Kronologi Komentar yang Memicu Kemarahan Publik
Peristiwa ini berawal dari unggahan dokter Tamara Dewi Jasmine melalui akun @tamdjs. Ia diduga merendahkan pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan yang disebut belum mendapatkan kamar selama delapan jam hingga akhirnya meninggal dunia.
Dalam cuitannya, dokter tersebut menuliskan sindiran tajam yang membandingkan kondisi finansial pasien. "Mending banyakin duit halal daripada banyakin bacot. Biar bisa bayar dan merasakan asuransi swasta. Dan bisa berpendidikan biar akhlak tidak minus, dan tidak playing victim," tulis @tamdjs di akunnya lima hari lalu.
Pernyataan itu sontak memicu gelombang kritik dari netizen. Setelah ramai, dokter yang bersangkutan mengaku komentar tersebut tidak ditujukan ke akun pasien @yurizaltrich, namun publik menilai sikap tersebut tetap tidak berempati.
RS Pusri Tindak Tegas, Putus Kerja Sama
Manajemen RS Pusri Palembang bergerak cepat menindaklanjuti viralnya komentar tersebut. Hanya berselang sehari setelah kasus mencuat, pihak rumah sakit memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan dokter yang bersangkutan.
"Sebagai bagian dari mekanisme pembinaan dan penegakan tata kelola organisasi, manajemen telah melakukan pemanggilan kepada dokter yang bersangkutan. Setelah melalui proses tersebut, manajemen memutuskan mengakhiri kerja sama dengan dr. @tamdjs sebagai dokter mitra RS Pusri," ujar Humas RS Pusri, Diah Dwi Anugrah, Kamis (6/8/2026).
Akar Masalah: Beban Pelayanan atau Oknum?
IDI Sumsel menilai kasus ini tidak bisa dilihat dari kesalahan individu semata. Abla Ghani menyebut beban pelayanan yang tinggi dan celah koordinasi antar rumah sakit rujukan kerap menjadi pemicu masalah serupa.
"Sering kali akar persoalan bukan hanya oknum, tetapi juga beban pelayanan yang tinggi dan celah koordinasi yang berdampak pada keselamatan pasien," katanya.
Oleh karena itu, IDI mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap alur rujukan BPJS, ketersediaan tempat tidur rawat inap, hingga mekanisme komunikasi antara rumah sakit rujukan dengan pasien. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Komitmen Hapus Stigma Pasien BPJS
Lebih jauh, IDI Sumsel berkomitmen menghilangkan stigma negatif terhadap pasien pengguna BPJS. Peristiwa ini menjadi momentum bagi seluruh tenaga kesehatan untuk kembali merawat nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pelayanan.
"Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kami semua untuk memperbaiki sistem, menghilangkan stigma terhadap pasien BPJS, dan memastikan keselamatan pasien adalah prioritas mutlak," pungkas Abla Ghani.
Saat ini, IDI masih melakukan penelusuran dan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit untuk meminta klarifikasi dari tenaga kesehatan yang bersangkutan. Proses investigasi juga tengah dilakukan oleh BPJS Kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat.