PALEMBANG — Firdaus Hasbullah, yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD PALI, menyatakan bahwa di balik ketersediaan pangan yang dinikmati masyarakat setiap hari terdapat kerja keras jutaan petani. Menurut dia, Hari Tani bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan ruang refleksi untuk melihat kembali kondisi, tantangan, dan masa depan petani Indonesia.
Dalam keterangan resminya, Kamis (24/9/2026), Firdaus menegaskan bahwa persoalan pangan berkaitan langsung dengan kedaulatan dan ketahanan bangsa. Karena itu, ia mendesak agar petani ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan, bukan hanya objek kebijakan.
Kaitan Hari Tani dengan UUPA 1960
Firdaus mengingatkan bahwa sejarah Hari Tani Nasional memiliki keterkaitan erat dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Semangat yang terkandung dalam UUPA, katanya, harus terus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang memberikan kepastian, perlindungan, dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat tani.
"Tanah bagi petani bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah tempat mereka menggantungkan kehidupan, membangun keluarga dan meneruskan kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Maka persoalan pertanian juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan keadilan, kepastian usaha dan kesejahteraan masyarakat," kata dia.
Harga Layak dan Akses Pasar Jadi Sorotan
Satu tantangan yang perlu terus menjadi perhatian, ungkap Firdaus, adalah memastikan petani mendapat nilai ekonomi yang layak dari hasil produksinya. Peningkatan produksi pangan, menurut dia, harus berjalan beriringan dengan penguatan rantai distribusi, akses pasar, teknologi, permodalan, sarana produksi, serta perlindungan terhadap petani.
"Jangan sampai kita hanya berbicara tentang peningkatan produksi, tetapi lupa memastikan petani mendapatkan hasil yang sepadan dengan kerja kerasnya. Petani harus mendapatkan harga yang layak, akses pasar yang baik dan biaya produksi yang rasional," ungkap dia.
Aktivis 98 Sumsel ini pun mendorong pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat ekosistem pertanian. Menurutnya, kondisi pertanian saat ini membutuhkan inovasi dan teknologi agar generasi muda melihat sektor pertanian bukan sebagai pekerjaan tradisional semata, tetapi sebagai sektor ekonomi yang memiliki masa depan.
Sumsel dan Agenda Regenerasi Petani
Dalam konteks Sumatera Selatan, Firdaus menyebut sektor pertanian memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan potensi ekonomi daerah. Perhatian lebih besar, katanya, perlu diberikan pada regenerasi petani muda, pemanfaatan teknologi pertanian, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian.
"Kalau anak-anak muda kita tidak lagi tertarik menjadi petani, maka kita harus bertanya bagaimana masa depan pangan kita. Regenerasi petani harus menjadi agenda bersama. Anak muda harus diberikan ruang, teknologi, pengetahuan dan akses ekonomi agar bertani menjadi pilihan masa depan yang menjanjikan," tegas dia.
Firdaus juga menekankan jasa besar para petani terhadap Sumsel yang telah menjadi salah satu kekuatan pangan nasional. Daerah ini memiliki sumber daya lahan, komoditas pertanian dan perkebunan yang beragam, serta masyarakat yang secara turun-temurun memiliki aktivitas ekonomi berbasis sektor agraria.
"Oleh karena itu momentum hari tani ini, kita mendorong bagaimana para petani semakin sejahtera. Kita harus mulai mendorong bagaimana hasil pertanian dan perkebunan bisa diolah, dikemas dan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Dari sinilah ekonomi petani bisa tumbuh, lapangan kerja bisa tercipta dan kesejahteraan petani bisa semakin meningkat," tandas dia.