PALEMBANG — Kabut asap menyergap kota sejak pagi, bukan tipis melainkan pekat dan menggantung rendah di atas permukiman warga. Langit di sepanjang kawasan Ulu sampai Ilir tampak kusam kekuningan. Siapa pun yang mencoba keluar rumah langsung merasakan udara kering yang menyengat hidung.
Sejumlah warga yang hendak beraktivitas terpaksa putar balik. Bagi mereka, paparan asap pagi itu sudah masuk kategori mengganggu keselamatan, bukan sekadar soal jarak pandang.
Warga Pilih Bertahan di Rumah demi Hindari ISPA
Salah seorang warga Palembang mengaku memilih tidak keluar rumah karena kondisi pagi itu jauh lebih buruk dibanding hari-hari sebelumnya. Ia mengaku cemas terhadap anak-anak yang tetap harus berangkat sekolah dan pekerja yang tetap harus di jalan.
"Baru buka pintu, langsung terasa. Asapnya nusuk di hidung, mata langsung perih. Berat sekali udaranya. Daripada sakit, mending di rumah saja hari ini," katanya.
"Harusnya ada tindakan cepat. Kasihan kami yang di kota ini, kena imbas terus. Tiap tahun begini," ujarnya menambahkan.
Keluhan serupa datang dari banyak warga lain. Laporan yang terkumpul menyebut gejala berulang seperti mata merah, batuk kering, sesak napas, dan tenggorokan gatal akibat paparan asap berkepanjangan.
Asap Kiriman dari Kabupaten Penyangga, Palembang Jadi Muara
BMKG menegaskan bahwa memburuknya kualitas udara di Palembang merupakan dampak akumulasi asap karhutla dari beberapa kabupaten di Sumsel yang terbawa angin. Artinya, kota ini menjadi muara dari persoalan yang berakar di wilayah hulu.
Data kualitas udara sebelumnya sempat menyentuh level berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 jauh di atas ambang aman. Kelompok rentan menjadi pihak paling terancam: balita, lansia, ibu hamil, dan penderita asma.
Dampak medisnya sudah terlihat. Polrestabes Palembang membuka posko kesehatan gratis bagi korban infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap, menandakan bahwa persoalan ini telah bergeser dari gangguan kenyamanan menjadi ancaman kesehatan publik.
Yang Dibutuhkan Warga: Pemantauan Transparan hingga Pemadaman Total
Warga mendesak pemerintah dan instansi terkait tidak hanya bergerak saat kualitas udara sudah masuk kategori berbahaya. Mereka menuntut kepastian berupa pemantauan udara yang transparan, distribusi masker gratis, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, serta pemadaman total di titik api.
Palembang berulang kali menghadapi situasi serupa setiap tahun. Ketika sebuah kota metropolitan harus berjuang hanya untuk mendapatkan udara bersih, persoalan penanganan bencananya perlu dievaluasi menyeluruh.
Di balik asap pekat itu, ribuan warga tetap harus mencari nafkah. Pengemudi ojek tetap harus di jalan, sementara anak-anak masih membutuhkan udara bersih untuk tumbuh. Solusi permanen, bukan sekadar imbauan memakai masker, menjadi tuntutan yang menguat dari warga kota ini.